banner 468x60

Surat Terbuka Dari Asosiasi SETARA Buat Bupati Jepara Dian Kristiandi

banner 160x600
banner 468x60

Seniman khususnya pelaku seni tradisional seperti seni pedalangan dan seni karawitan, menjadi salah satu kelompok masyarakat  yang benar-benar terpukul karena pandemi Covid-19, yang tidak jelas waktunya akan berakhir.

Di Kabupaten Jepara dengam dengan adanya pembatasan dan bahkan pelarangan pentas, membuat mata pencaharian mereka jauh berkurang.

Ini ironis sekali kalau di banding operasional produksi Pabrik-Pabrik tektile dan garment yang juga penuh dengan buruh pabrik, hingga saat jam istirahat makan siang juga berkerumun serta sistem kerja hingga shift siang dan malam.

Dalam kegiatan pentas seni pasti mendatangkan kerumunan, karena identik dengan keramaian, hanya sistem pencegahan dan penanggulangan nya saja yamg harus di sosialisasikan dan di taati, namun tidak harus di larang, selama protokol kesehatan di jalankan, apalagi pentas seni pewayangan dan karawitan sebuah paket seni, yang membutuhkan durasi panjang sesuai pakem cerita, sehingga malam hari adalah waktu yang ideal dalam pementasan.

Oleh sebab itu   DPC Asosiasi Seniman  Nusantara (SETARA) Kabupaten Jepara, dengan alamat sekretariat Jl. Tirto Samudra Rt. 16 / Rw. 05, Desa Bandengan, Kec. Jepara, Kab. Jepara Telp. 081326507989, segenap pengurus serta anggota SETARA melalui SURAT TERBUKA kepada Bupati Jepara, berharap agar pementasan seni tradisional wayang kulit, campursari, gamelan, kentrung dan pentas seni lain diijinkan di pentaskan pada malam hari.

Untuk tujuan permintaan izin pentas malam hari, melalui surat terbuka kepada Bupati Jepara Dian Kristiandi di bacakan dan di tandatangani oleh Ketua DPC Asosiasi Seniman Nusantara Kabupaten Jepara, Ki Hadi Purwanto.

Surat tersebut dibacakan langsung oleh Ketua DPC SETARA, Ki Hadi Purwanto didamping Sekretaris SETARA Ki Sasmito Cokro berlangsung di taman wisata Air Terjun Jurang Nganten, Dukuh Senggrong, Desa Blingoh Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Jumat (26/3/2021).

Dalam pembacaan surat tersebut di hadiri pula seniman tradisional, dalang, waranggono dan sejumlah seniman lainnya, juga disaksikan warga setempat.

Surat terbuka tersebut tujuannya  agar Bupati Jepara tergerak dan menaruh perhatian dengan mengijinkan pentas seni tradisional wayang kulit, campursari dan gamelan bisa di pentaskan pada malam hari, tentunya dengan menjalankan dan menjaga Protokol Kesehatan sesuai anjuran pemerintah.

Menurut Ki Hadi Purwanto,  untuk mendukung pentas malam pihak SETARA telah menyiapkan Tim Pembantu Relawan Seni Tradisional yang akan mengawal setiap pementasan.

“Kami ingin memastikan bahwa semuanya mentaati protokol kesehatan, baik pemain maupun penonton,” ujar Hadi Purwanto.

Selain membacakan surat terbuka, SETARA juga menggelar pentas  wayang kulit yang di lakukan oleh Ki Dalang Sasmito Cokro pemilik sanggar seni Cokro Laras, Desa Srobyong, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara.***(bagus)

Pencarian Terkait

Email Autoresponder indonesia
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.