banner 468x60

Danang Soeko Moelyantoro salah satu yang memberikan surat cinta kepada Sunarso selaku Dirut BRI Ini Isinya!!

banner 160x600
banner 468x60

Dirut BRI, Sunarso pada acara webinar CEO Talk yang mengambil tema “Cracking The Transformation Secret” (15/7).
Foto: Direktur Utama BRI Sunarso (Foto: Ist)

Jakarta, Journalpolice.id – dilansir dari CNBC indonesia bahwa Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Sunarso mengungkapkan bahwa dirinya kerap kali mendapatkan ‘surat cinta’ dari investor global yang berorientasi pada Environmental, Social, and Governance (ESG) seperti Blackrock.

Dia mengungkapkan, surat tersebut kurang lebih berisi mengenai pemberitahuan bahwa perusahaan tersebut telah mengalokasikan investasinya untuk perusahaan yang berorientasi ESG. Oleh karena itu, mau tak mau BRI juga harus menerapkan hal yang sama untuk mempertahankan valuasinya di pasar.

“Saya selalu dapat surat cinta dari investor besar yang berorientasi kepada ESG. CEO Blackrock itu kirim surat kepada CEO di mana dia invest dan kemudian intinya adalah bahwa telah terjadi realokasi investment itu di global. Bahwa kemudian yang mengarah kepada sustainability investment sudah meningkat 96%,” kata Sunarso dalam ESG Capital Market Summit 2021, Selasa (27/7/2021).

“Dan kemudian juga apabila perusahaan tidak mampu mengarahkan resources-nya untuk mengikuti strategi menuju ke net zero economy maka perusahaan itu akan mati dan valuasinya terus mengalami penurunan dan mati,” lanjutnya.

Untuk itu, kata Sunarso, BRI memastikan bahwa perusahaan memiliki going concern dan menjadi perusahaan yang berkelanjutan, di samping juga terus meningkatkan profitabilitas.

Namun juga memastikan bahwa perusahaan environmentally friendly, social responsible dan dikelola dengan baik.

Saat ini BRI juga telah mulai berfokus pada risiko lingkungan, sosial dan tata kelola dengan melakukan identifikasi risiko dan kemudian menentukan langkah preventif di kegiatan usaha langsung dan tidak langsung.

“Dari sisi investor, kemudian internasional dan nasional shareholder. Investor menginginkan bank itu menjadi going concern dan sustain company, ga mau dia investasi kemudian banknya ada masalah karena tidak aware dengan ESG ini,” imbuhnya.

Selain itu BRI juga terus mengembangkan produk perbankan, baik untuk debitur dan deposan, yang berorientasi pada produk ramah lingkungan dan efisien.

Dari segi aset, terang Sunarso, saat ini BRI telah memiliki sebanyak Rp 579,7 triliun aset kredit berkelanjutan. Nilai tersebut merupakan 64,7% dari total kredit yang disalurkan BRI hingga Maret 2021.

Kredit tersebut paling besar disalurkan pada kredit mikro dan UKM dengan nilai mencapai Rp 490,8 triliun, lalu ke sektor pengelolaan sumber daya alam hayati dan penggunaan lahan yang berkelanjutan senilai Rp 39,1 triliun dan ke sektor energi terbarukan sebesar Rp 15,7 triliun, dan beberapa sektor berwawasan lingkungan dan berkelanjutan lainnya.

Dari segi pembiayaan, terang dia, pada 2019 BRI menerbitkan sustainability bond senilai US$ 500 juta dengan kupon sebesar 3,95% per tahun bertenor lima tahun.

“Ini mungkin untuk yang pertama lho, di Southeast Asia. Oversubscribed sampai delapan kali,” kata Sunarso.

Dana ini dialokasikan 41% untuk pemulihan ekonomi nasional pemulihan ekonomi nasional, 25% untuk projek hijau, 20% untuk pendidikan karyawan, 13% untuk pemberdayaan sosial ekonomi dan 1% untuk pengadaan perumahan dengan harga terjangkau.

Sisi lain salah satu investor Danang Soeka Mulyantoro membenarkan menjelaskan kepada awak media mengungkapkan isi surat cinta nya kepada Dirut BRI agar ada tanggapan dan diperuntukan perbaikan ekonomi negara Indonesia , agar para pelaku usaha kecil maupun menenagah bisa memanfaatkan uang yang diinvestasikan dan tercatat di BRI dengan cara ajukan kerjasama dengan cara ajukan kepada aplikan berapapun nilai nya sesuai aturan perbankan yang ada di Indonesia kepada investor global tersebut, BRI hanya menerbitkan instrumen sebagai alat bayar, atau jaminan bayar imbuhnya.( Roy)

Pencarian Terkait

Email Autoresponder indonesia
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.