banner 468x60

Sejarah NKRI dari Keraton Jogjakarta”Tsunami Voucher M1 Sedunia”

banner 160x600
banner 468x60

JOURNALPOLICEMID-INTERNATIONAL,Swissindo telah melanyangkan surat2 kpd smua instansi trkait V M1.

Dan proses ini banyak sekali beberapa cabang mandiri menolak jika memang tdk benar maka pihak mandiri jangan membuat selebaran seharusnya.

Ini negara hukum yg mana uud 45 pasal 7 dan uu no 48 /2009 tentang kekuasaan kehakiman PMK no 93 /PMK.06/2010 jo no 106/PMK 06/2013
dgn segala perubahanya mengatur bahwa atas tindakan hukum tidak bisa berdasar asumsi dan selebaran berita sepihak namun harus di putuskan melalui pengadilan bahkan sampai Mahkamah Agung ,sehingga yang di anggap isu atau berita beredar di masyarakat terjawab dengan kepastian hukum tetap dan mengikat.

Sehubungan maraknya pemberitaan Voucher M1 dengan pihak mandiri simpang siur antara Masyarakat dan pihak perbankan, maka seyogya nya para pihak melakukan gugatan dan sejenisnya agar tidak ada salah tafsir dari masyarakat.

Pihak manapun jangan membuat keputusan sepihak itu palsu / bohong dan lain2.

*Mengenang Jasa Sri Sultan HB IX terhadap NKRI*

Soekarno Pun Tak Kuasa Menahan Tangis Saat Kalimat Ini Diucapkan Sri Sultan HB IX

– Soekarno, sang proklamator ini dikenal sebagai pemimpin yang berwibawa dan penuh kharisma.
Apalagi ketika dirinya berpidato.
Kemampuan orasinya kerap kali menyihir para pendengarnya.
Tapi dibalik itu semua, Soekarno juga memiliki sisi-sisi lembut seperti orang pada umumnya.
Bahkan ia pun bisa menangis di hadapan banyak orang.

Salah satu cerita yang diabadikan sejarah yakni saat Sri Sultan HB IX memberikan bantuan uang untuk membiayai roda pemerintahan.
Sri Sultan HB IX saat itu mengucapkan kalimat yang membuat Soekarno menangis terharu.

“Yogyakarta sudah tidak punya apa-apa lagi. Silahkan lanjutkan pemerintahan ini di Jakarta,” kata Sri Sultan saat itu kepada Soekarno sembari menyerahkan selembar cek 6 juta Gulden.Kalimat itulah yang membuat Soekarno tak sanggup menahan derai air matanya.

Sebuah ketulusan yang diberikan Sri Sultan HB IX dikala republik tak punya biaya menjalankan roda pemerintahan ditambah dengan situasi keamanan yang belum pulih.

Sejarah mencatat bahwa peristiwa itu terjadi tak lama setelah Soekarno dikukuhkan sebagai Presiden RI di Siti Hinggil Keraton Yogyakarta pada 6 Desember 1949, atau setelah Soekarno dan Hatta kembali dari pengasingan.
Sebelum peristiwa tersebut, Sri Sultan HB IX juga turut andil dalam memastikan jalannya roda pemerintahan. Semisal tawaran untuk memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Yogyakarta.

“HB IX adalah sosok yang all out dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan republik ini,” ungkap Prof Oetarjo, sejarawan dan guru besar UGM dalam sebuah kesempatan wawancara dengan para wartwan pada 2011 silam.
“Coba Anda bayangkan. Seorang Raja Jawa yang berwibawa mengumumkan dirinya tidak punya apa-apa di hadapan umum,” tambahnya.

Menurut Oetarjo, kala itu memang Yogyakarta sudah tidak punya apa-apa lagi untuk menopang keuangan RI yang pindah ke Yogyakarta.
Hampir semua biaya operasional untuk menjalankan roda pemerintahan, misalnya kesehatan, pendidikan, militer, dan pegawai-pegawai RI, saat itu dibiayai Keraton Kasultanan Yogyakarta.
Oetarjo menambahkan, Sultan dan rakyat Yogyakarta memiliki andil besar dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
“Sultan dan rakyat bersatu tanpa pamrih memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan,” ujarnya sambil menyeka air mata.Red.Mjp/rhdyt sbr mdss

Email Autoresponder indonesia
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.