banner 468x60

Sejarah Gunung kemukus

975 views
banner 160x600
banner 468x60
http://www.ejawantahtour.com/2013/11/cerita-sejarah-pangeran-samudro-gunung.html

Journalpolice.id , SRAGEN – Cerita sejarah Pangeran Samudro yang berkembang di kawasan Gunung Kemukus Desa Pendem, Kecamatan Sumber Lawan, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah memiliki beberapa versi cerita yang beredar di kalangan masyarakat. Seperti halya kisah cerita ini saya dapatkan di lokasi dengan berbagai sumber literatur catatan sejarah tentang cerita tokoh yang satu ini.

Dari beberapa sumber cerita yang saya dapatkan di lokasi dan saya lengkapi dengan beberapa catatan literatur sejarah, Pangeran Samudro yang merupakan putra dari seorang Raja Majapahit terakhir dan lahir dari ibu selir yang bernama R. Ay. Ontrowulan.

Ketika Kerajaan Majapahit runtuh. Pangeran Samudro yang telah berusia 18 tahun tidak ikut melarikan diri seperti saudara-saudaranya yang lain. Bahkan beliau bersma ibunya ikut diboyong ke daerah Demak Bintoro oleh Sultan Demak.

Selama berada di Demak, Pangeran Samudro mendapat bimbingan ilmu agama dari Kanjeng Sunan Kalijaga. Ketika dirasa cukup dan usianya beranjak dewasa, maka atas petunjuk perintah dari Sultan Demak melalui kanjeng Sunan Kalijaga, Pangeran Samudro diperintahkan untuk berguru tentang agama Islam kepada Kyai Ageng Gugur dari Desa Pandan Gugur, yang letaknya di daerah lereng Gunung Lawu. Perintah yang di tugaskan kepada Pangeran Samudro ini sekaligus mengemban misi suci untuk menyatukan saudara-saudaranya yang telah terpisah lama.

Setelah mendapatkan petunjuk perintah dan nasehat dari Sultan Demak, maka pangeran Samudro pun mentaati nasehat tersebut dan pergi berguru kepada Kyai Ageng Gugur dengan didampingi dua orang abdinya yang setia.

Hari demi hari Pangeran Samudro melalui proses belajar dengan gurunya yang bernama Kyai Ageng Gugur, dan Sang Pengeran pun diberi ilmu tentang intisari ajaran Islam secara mendalam. Selama itulah Pangeran tidak mengetahui bahwa yang Kyai Ageng Gugur sebenarnya adalah kakak kandungnya sendiri. Setelah Pangeran Samudro mengusai ilmu yang dijarkan oleh Kyai Ageng Gugur, barulah sang guru menceritakan siapa sebenarnya dirinya.

Mendengar keterangan dari gurunya Sang Pangeran terlihat terkujut dan bahagia. Beliau teringat akan amanat Sultan Demak untuk menyatukan saudaranya. Dan pada akhirnya setelah amanat dari Sultan di bicarakan kepada kakanya, maka Kyai Ageng Gugur bisa menerima dan bersedia dipersatukan kembali dan ikut membangun bersama Kerajaan Demak.

Setelah selesai berguru dan tercapai maksud tujuannya, pangeran Samudro bersama abdinya kembali ke Demak. Mereka berjalan ke arah barat dan sampailah di Desa Gondang Jenalas (sekarang wilayah Gemolong), kemudian mereka beristirahat untuk melepaskan lelah.

Di dukuh tersebut mereka bertemu dengan orang yang berasal dari Demak (Wulucumbu Demak) yang bernama Kyai Kmaliman. Di dukuh ini Pangeran Samudro berniat bermukim sementara untuk menyebarkan agama Islam.

Setelah dirasa cukup, mereka kembali melanjutkan perjalanan ke arah barat dan sampai di suatu tempat di padang “oro-oro” Kabar. Sampai sekarang tempat tersebut dikenal dengan nama Dusun Kabar, Desa Bogorame (Gemolong). Di tempat inilah pangeran Samudro terserang penyakit panas. Walaupun demikian, perjalanan tetap dilanjtkan sampai ke Dukuh Doyong (wilayah Kecamatan Miri). karena sakit yang diderita semakin parah, Pangeran memutuskan untuk beristirahat di dukuh tersebut.

Ketika sakitnya semakin parah dan dirasa tidak sanggup melanjutkan perjalanannya. pangeran Samudro memerintahkan salah seorang abdinya untuk mengabarkan kondisinya kepada Sultan di Demak. Singkat cerita pada saat abdi Pangeran Samudro menghadap Sultan Demak, maka Sultan pun mangataka, “Menurut hematku bahwa skitnya Si Samudro itu sudah tidak bisa diharapkan untuk membaik dan jauh dari kemungkinan untuk sampai ke Demak. Jika memang sudah menjadi surata Yang Maha Kuasa bahwasanya sampai di situ saja riwayatnya atau menemui ajalnya, maka kebumikanlah jasadnya pada suatu tempat di bukit arah barat laut dari tempat Pangeran Samudro meninggal. Boleh jadi kelak di ekitar tempat itu akan menjadi ramai sehingga dijadikan tauladan orang-orang yang berada diekitar sana.

Seusai mendengarkan amanat Sultan, abdi tersebut diperintahkan untuk segera kembali. Ketika Abdi tersebut kembali ke tempat di mana Pangeran beristirahat. Pangeran Samudro telah meninggal. Namun sebelum Pangeran Samudro meninggal beliau sempat memberikan sebuah wejangan, “Sing sopo duwe panjongko marang samubarang kang dikarepke bisane kelakon iku kudu sarono pawitan temen, mantep, ati kang suci, ojo slewang-sieweng, kudu mindeng marang kang katuju, cedhakno dhemene kaya dene yen arep nekani marang penggonane dhemenane“. (Sumber : Kadjawen, Yogyakarta : Oktober 1934).

Dari keterangan beberapa sumber wejangan terakhir dari Pangeran Samudra sebelum beliau meninggal dan dialihkan menjadi bahasa Indonesia dengan para akhli bahasa [esan nasehat tersebut berbunyi, “Barang siapa berhasrat atau punya tujuan untuk hal yang dikendaki maka untuk mencapai tujuan harus dengan kesungguhan, mantap, dengan hati yang suci, jangan serong kanan / kiri harus konsentrasi pada yang dikehendaki atau yang diinginkan, dekatkankeinginan, seakan-akan seperti muju ke tempat kesayangannya atau kesenangnannya“.

Lanjut cerita sejarah Pangeran Samudro……..
Dan selanjutnya sesuai dengan petunjuk Sultan, jasad pangeran Samudro dimakamkan di perbukitan di sebelah barat dukuh tersebut. Sebelum pemakaman, diadakan musyawarah di antara orang-orang yang meilki lahan di sekitar wilayah tersebut. mereka bersepakat bahwa lokasi bekas perawatan atau peristirahatan Pangeran Samudro akan didirikan desa baru, dan desa tersebut diberi nama desa “Dukuh Samudro” yang sampai saat ini dikenal dengan nama “Dukuh Mudro”

Itulah sekelumit cerita sejarah kehidupan Pangeran Samudro, namun bagaimana hubungannya dengan nama Gunung Kemukus ? sedangkan nama Desa tempat beliau di makamkan saja bernama “Dukuh Samudro” atau “Dukuh Mudro” ? Untuk menjawab pertanyaan ini adabaiknya anda membaca Sejarah Asal Usul Penamaan Gunung Kemukus,

Bila kita melihat ceita sejraha pesan terakhir yang di sampaikan Pangerah Samudro diatas yang saya dapatkan dari berbagai sumber literatur dan keterangan tokoh-tokoh masyarakat Gunung Kemukus yang terdapat di atas, wejangan ini disalah artikan oelh sebagain orang atau oknum yang berziarah atau berkunjung ke Makam Pangeran Samudro harus seperti berkunjung ke tempat kekasih ( bahasa jawa : dhemenan) dalam pengertian bahwa para perziarah yang datang ke tempat tersebut harus membawa isteri simpanan atau teman kumpul kebonya, dan melakukan hubungan suami isteri dengan yang bukan isteri atau suaminya yang sah. yang menyebabkan kawasan ini dikenal orang sebagai obyek wisata Gunung Kemukus untuk ritual kekayaan.

Keterangan dari salah seorang tokoh masyarakat yang tidak mau disebutkan namanya kepada saya, bahwa pandangan atau penilaian orang yang menjadikan tempat ini sebagai obyek wisata sex dalam melakoni ritual kekayaan adalah tidak benar. Dan muculnya pembenaran dari tindakan ini berawal dari penafsiran orang yang salah akan pengertian bahasa dalam kata dhemenan di mana dalam bahasa Jawa kata “dhemenan” diartikan kekasih lain yang bukan isteri atau suami yang sah (pasangan kumpul kebo), kekasih gelap, isteri atau simpanan. (Pria atau wanita Idaman lain).

Lanjut keterangan salah seorang tokoh masyarakat Gunung Kemukus…….
Arti sesungguhnya dari kata “dhemenan” dalam konteks naskah dalam bahasa Jawa tersebut adalah keinginan yang diidam-idamkan, cita-cita yang akan segera terwujud atau tercapai seperti kita akan menumui kekasih pujaan hati.

Dapat disimpulkan bahwa inti dari ziarah ke Makam pangeran Samudro di gunung Kemukus adalah apabila kita memiliki kemauan, cita-cita yang akan dicapai, kita harus mampu menghadapi segala rintangan yang menghalangi untuk mencapai tujuan cita-cita kita yang diharapkan. Dan tujuan tersebut harus dlakukan dengan cara bersungguh-sungguh dengan hati yang bersih suci dan konsentrasi pada cita-cita dan tujuan yang akan dicapai. Dengan demikian, terbukalah jalan untuk mencapai cita-cita dan tujuan tersebut dengan mudah.

Itulah cerita dan kesimpulan yang saya dapatkan dari hasil pembicaraan dengan beberapa tokoh masyarakat di daerah Gunung Kemukus di daerah Sragen. memang tidak mudah kita untuk mengetahui dari setiap makna yang terssurat dari sebuah kisah cerita sejarah Pangeran Samudro ini yang sudah menjadi legenda masayrakat, kita pun harus mendapatkan informasi yang benar dari maksud tujuan sebenarnya dari cerita sejarah benar. Dan tetap menjadikan daerah Gunung Kemukus tetap menjadi destinasi tujuan wisata yang dapat dinikmati keindahan alamnya dengan mengenang sejarah perjuangan Pangeran Samudro yang menjadi tokoh penyebar agama Islam di daerah Gunung Kemukus.

 

Editor : Awi  – Bambang

Redaksi Www.journalpolice.id

Email Autoresponder indonesia
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.