banner 468x60

Satu Lagi Penghina Ketum APKOMINDO Diseret ke Kursi Pesakitan

banner 160x600
banner 468x60

Kasus penghinaan dan pencemaran nama baik melalui akun facebook terhadap Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (APKOMINDO) Ir. Soegiharto Santoso alias Hoky kembali mencuat. Satu persatu oknum yang menghina Ketum APKOMINDO yang juga berprofesi sebagai wartawan itu kini harus duduk di kursi pesakitan sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri Yogyakarta. Kali ini giliran Rudy Dermawan Muliadi, setelah sebelumnya dua pengusaha komputer yakni Ir. Faaz Ismail dan Ir. Michael Santosa Sunggiar sudah merasakan duduk di kursi pesakitan sebagai terdakwa kasus penghinaan dan pencemaran nama baik dalam sidang di Pengadilan Negeri Yogyakarta.

Sidang perdana perkara nomor : 199/Pid.Sus/2020/PN Yyk dengan terdakwa Rudi Muliadi berlangsung pada (10/09/2020) di PN Yogyakarta. Pada sidang ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) Slamet Supriyadi SH mendakwa Rudy sebagai orang yang telah melakukan perbuatan dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik sebagaimana dimaksud dalam pasal 27 ayat (3) UU RI nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Dalam dakwaannya JPU berpendapat bahwa komentar Rudy di akun Facebook Group APKOMINDO jelas ditujukan kepada Soegiharto Santoso. “Terdakwa telah menunjukan sindiran yang halus bahwa Soegiharto Santoso menjadi orang yang salah, setidaknya selama 43 hari pernah ditahan di lembaga pemasyarakatan,” ungkap JPU Slamet Supriyadi saat membacakan dakwaannya di hadapan Majelis Hakim yang diketuai Bandung Suhermoyo SH MHum dan Hakim Anggota Sari Sudarmi SH serta Nenden Rika Puspitasari SH MH, dengan panitera pengganti Noorman Nefonanto SH.

Fakta hukum yang sebenarnya, sebut JPU, putusan PN Bantul menyatakan Soegiharto Santoso tidak terbukti melakukan tindak pidana dan telah dibebaskan dari segala dakwaan, serta hak-haknya sudah dikembalikan, bahkan upaya kasasi oleh JPU atas Soegiharto Santoso telah ditolak oleh Mahkamah Agung RI. “Sehingga hal ini membuktikan bahwa tulisan terdakwa di akun Group Facebook APKOMINDO terhadap Soegiharto Santoso tidak terbukti sebagai orang yang (dituduh) bersalah,” kata JPU.
Menangapi dakwaan JPU tersebut terdakwa Rudy melalui kuasa hukumnya, Djunaedi SH langsung menyatakan keberatannya. Menurutnya ada beberapa poin dari dakwaan jaksa dianggap tak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi. “Atas dakwaan penuntut umum, kami akan mengajukan eksepsi atau keberatan,” tegasnya.

Sementara itu selaku korban Soegiharto Santoso mengaku sangat lega dan memberi apresiasi atas kinerja aparat penegak hukum yang telah memproses semua pihak terlapor hingga berujung ke meja hijau. Ia meminta agar kasus yang menimpanya itu dapat diusut dengan tuntas dan para pelaku mendapat hukuman setimpal.

“Saya tentu menuntut keadilan, agar hukum benar-benar ditegakan, apalagi laporan saya ini bukan hasil rekayasa, berbeda dengan mereka yang merekasaya hukum, bahkan diduga ada yang menyediakan dana, seperti terungkap dalam persidangan di PN Bantul oleh Henkyanto TA yakni Suharto Yuwono salah satunya, sehingga saya sempat ditahan secara sewenang-wenang selama 43 hari di Rutan Bantul padahal saya tidak melakukan perbuatan pidana, bahkan tuntutan JPU Ansyori SH dari Kejagung RI tidak main-main yaitu selama 6 tahun penjara dan denda Rp 4 Milyar,” urainya.

Soegiharto juga mengaku heran atas komentar terdakwa diakun facebook yang sempat membawa-bawa nama Tuhan padahal itu menurutnya sangat sakral dan tidak pantas dikaitkan dengan permasalahan hukum. “Mungkin karena terdakwa sangat berambisi sekali menjabat sebagai Ketua Umum APKOMINDO sehingga berusaha merusak nama baik saya dan juga mengaku-ngaku sebagai ketua umum APKOMINDO,” ujarnya.

Soegiharto yang pernah menjadi ketua panita Kongres Pers Indonesia 2019 ini juga mengapresiasi kinerja pers yang tetap neral dan professional dalam mengawal kasus rekayasa hukum yang menimpa dirinya sejak dari ditahan selama 43 hari pada tahun 2016 lalu, sampai pada pemberitaan laporan polisi yang dilayangkannya di Polda DI Yogyakarta tahun 2017 hingga kini masih terus diberitakan, sehingga pihak polisi tetap memproses laporannya meskipun memakan waktu yang cukup panjang. “Lima tahun lebih saya menuntut keadilan dan pelaku rekayasa hukum terhadap saya saat ini satu-persatu sudah mulai diadili, dan saya yakin pers tidak berpihak kepada saya meskipun saya juga adalah seorang wartawan. Saya hanya berharap agar pemberitaan tetap dikawal dan wartawan tetap cover both side untuk mengungkap kebenaran dari peristiwa yang saya alami tanpa harus ditutup-tutupi,” imbuhnya.

Sidang lanjutan dengan terdakwa Rudy Dermawan Muliadi akan digelar kembali pada Kamis (17/09/2020) mendatang. Pada sidang berikutnya majelis hakim akan memberikan kesempatan bagi pihak kuasa hukum terdakwa membacakan eksepsi. ***

Email Autoresponder indonesia
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.