banner 468x60

REVITALISASI DAN REAKTUALISASI NILAI-NILAI KEBANGSAAN – KERANGKA ACUAN DIALOG KEBANGSAAN

banner 160x600
banner 468x60

JOURNALPOLICE.ID- Jakarta – Mungkin kebanyakan manusia tidak pernah berjumpa dengan kebenaran karena kebenaran adalah barang mewah yang hanya didapat oleh orang orang yang berakal, berpikir dan berupaya mencari hikmah. Dunia modern memasuki era posth truth (pasca kebenaran), tiap-tiap orang mengklaim dirinya pasti benar dan orang lain pasti salah, mereka mengonstruksi kebenaran menurut tafsir versinya sendiri, bukan faktanya. Praksis post truth ini mendapat tempat dalam keriuhan media sosial.

Thoughtlessness (ketiadaan pikiran) meminjam istilah Hanna Arendt, dangkal dan banal dalam menilai serta menghakimi sesuatu. Para pakar tersingkir dalam debat di ruang maya, mereka memilih diam karena tidak ada guna berbicara pada situasi demikian.
Di era politik pasca kebenaran, dalam masyarakat ditengarai terjadinya pembelahan dan ancaman ideologis yang serius terhadap Pancasila dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Fenomena polarisasi dan ancaman ideologi yang terjadi di masyarakat ini bergerak liar dan sulit dikendalikan, yang karenanya perlu mendapat perhatian yang serius dari kita bersama sebagai suatu bangsa yang bhinneka.

Suasana ini berbeda jauh dengan suasana kebatinan saat para pemuda berjuang menyatukan diri untuk menjadi bangsa yang merdeka. Para kaum terdidik-tercerahkan, meminjam istilah Prof. Dr. Anhar Gonggong, pada waktu itu bertekad untuk bersatu, menyamakan semangat perjuangan untuk bisa meraih kemerdekaan dengan berbagai cara. Tujuan mereka sama yaitu Indonesia yang merdeka, bebas dari belenggu penjajah. Mereka semua bergerak bersama menuju satu tujuan yang sama yaitu kemerdekaan (In Finem Omnia). Kemerdekaan yang diperoleh atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan didorong keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Melihat fenomena tersebut di atas, kita perlu merenungkan kembali cita-cita kemerdekaan sebagai bangsa Indonesia, dan tentu saja mencoba mengembalikan kohesifitas dan rasa solidaritas sesama anak bangsa. Bangsa Indonesia perlu menghidupi nilai nilai kebangsaan dan Pancasila sebagai dasar dan pemersatu bangsa. Sudah saatnya kita menengok dan menghadirkan kembali suasana dan semangat para pendiri bangsa ke tengah-tengah masyarakat. Untuk itu perlu digali nilai-nilai kebangsaan yang ada oleh para pakar yang dihadirkan dalam Dialog Kebangsaan ini. Apa saja nilai-nilai luhur bangsa Indonesia? Bagaimana nilai nilai itu bisa diimplementasikan dalam konteks Indonesia pada masa sekarang? Masih relevankah nilai-nilai itu pada masa sekarang? Apa strategi untuk membangun masa depan bangsa Indonesia yang lebih kokoh?

Isue di atas akan dibahas dalam talkshow Dialog Kebangsaan bertema “Revitalisasi dan Reaktualisasi Nilai-Nilai Kebangsaan di Era Post Thruth, yang digagas oleh Komisi Hubungan Antar Agama dan Kemasyarakatan (HAAK) Dekenat Jakarta Selatan bersama Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) DPD Jabodetabek besok Sabtu, 10 Agustus 2019 jam 12:00-15:30, bertempat di Aula Gereja St. Stefanus, Cilandak, Jakarta Selatan.
Nara sumber/ pembicara dalam Dialog Kebangsaan tersebut :
– Dr (HC) H.A.Helmy Faishal Zaini – Sekjend PBNU
– Romo Letkol Yos Bintoro, S.Fill., M.Sc., Pr. – Wakil Uskup di TNI & POLRI.
– Prof.Dr.Aswi Warman Adam – Sejarawan
– Grace Natalie – Ketua Umum PSI
– Frisca Clarissa – Kompas TV.
(Tim jp ).

Email Autoresponder indonesia
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.