R.JIWO KUSUMO : GENERASI MILENIAL INGINKAN SEJARAH ” RUH ” PERADABAN MANUSIA MELALUI SEJARAH ASLI

JOURNALPOLICE.ID-Negara dan pemerintah serta para orang tua berkewajiban melindungi sejarah dan budaya asli Indonesia.

Salah satu caranya dengan melibatkan langsung generasi muda dalam kegiatan-kegiatan budaya dan kesejarahan Indonesia.

Founder Komunitas Doyan Sejarah (#DS), R.Jiwo Kusumo menuturkan, arus globalisasi, modernisasi, dan westernisasi yang pengaruhnya begitu masif membuat generasi muda kehilangan kepercayaan diri akan identitas dan jatidiri terhadap rentetan sejarah panjang Indonesia.

“Hal ini diukur dengan seberapa lengkap pengetahuan dan kemampuan mengejawantahkan sejarah di dalam perikehidupan berbangsa dan bernegara hari ini,” tuturnya dalam pemutaran film dokumenter pujangga Agung R Ng Ronggowarsito dan diskusi karya R Ng Ronggowarsito, Meramalkan atau Mendeskripsikan Peradaban Besar Nusantara? di Studio Mini Theater Lantai 8, Perpusatakaan Nasional RI, Jakarta Pusat, Kamis (1/11).

Sutradara muda sapaan akrabnya Jiwo kusumo menyebut bahaya laten dari kondisi tersebut berdampak pada keaslian sejarah itu sendiri.

Ketika eksistensi sejarah mengalami kesenyapan dan tidak lagi digaungkan lalu dituangkan ke dalam bentuk literatur, dan dideskripsikan dalam usaha untuk menghidupkan sejarah itu kembali, terjadi degradasi dan distorsi.

“Bahkan bisa menebak-nebak, sehingga sejarah mengalami pengkaburan, pergeseran, dan penyesatan,” ujarnya.


#DS bersama Perpusnas sebagai lembaga pemerintah dalam tugas dan fungsinya, mengadakan kegiatan bertajuk Doyan Sejarah.

kegiatan membangun pemahaman melalui nonton bareng film dokumenter sejarah, objek sejarah yang ditayangkan diambil dari biografi dan karya dari pujangga tanah Jawa, Raden Ngabehi Ronggowarsito, sebagai salah satu upaya menghempang krisis identitas dan jatidiri bangsa Tegas R.Jiwo Kusumo, Rangkaian kegiatan dimulai penayanggan film yang berdurasi sekitar 30 menit, dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab.

berharap, metode belajar dengan menggunakan pola audiovisual bisa mempermudah peserta memahami peristiwa jejak sejarah melalui film yang dibuat langsung, sebagai fasilitator dari Perpusnas.

Siapa saja yang ingin bergabung untuk belajar bersama, bisa datang langsung karena kegiatan yang dibuka untuk umum. Berlokasi di lantai 8 Jalan Medan Merdeka Selatan No.11, Gambir, Senen, Jakarta Pusat.

“Ke depannya Komunitas Doyan Sejarah akan mengadakan study tour ke candi-candi di Jawa Tengah, untuk menapaki¬† jejak dan catatan sejarah secara lebih dekat,” ujarnya.

Perpusnas juga hendak membangun kesadaran generasi muda, dengan budaya menonton film sejarah, serta diskusi rutin.

sejarah  merupakan perjalanan panjang yang tidak dapat dipisahkan, meliputi keadaan, waktu, peristiwa, momentum dan sebagainya.

Dalam rangka menghidupkan sejarah eksistensi sejarah tidak boleh terdistorsi oleh rentang dimensi waktu.

Subjek dan objek sejarah memiliki standar otentik yang wajib valid, utuh dan tidak buram.

“Pemahaman tersebut khususnya era milenial, mengalami pergeseran nilai. Padahal ini adalah pondasi intelektual yang wajib dipertahankan sebagai wujud tanggung jawab atas keberadaan bangsa dan Negara, yang patut dipelihara dan dipanggul oleh generasi masa kini, sebagai ” RUH Kehidupan dan peradaban manusia” tuturnya.( red.mjp/R.hidayat)