banner 468x60

POLA ASUH DAN GAYA HIDUP SEORANG DESAIN BUTIK KONDANG

69 views
banner 160x600
banner 468x60

 Editor : Eka Awi

JOURNALPOLICE.ID – Mengasuh dan mendidik anak dengan nilai-nilai yang tepat sejak dini, akan mengantarkan mereka menjadi sosok yang diharapkan orangtua. Meskipun begitu, bukan berarti orang tua bebas memaksakan kehendak pada anak.

Prinsip itulah yang dijalani oleh orangtua Dian Pelangi, sebagaimana yang dituturkan oleh Ayahandanya, Djamaludin Sochib.

Menurutnya sejak kecil ia menuntun anak-anaknya ke minat mereka yang diinginkan.tidak berarti memanjakan juga sok kemewahan,sehingga berdampak buruk bagi moral dan pergaulan hidup.

“Bapak tidak pernah memaksakan keinginan Bapak kepada anak-anak. Hanya saja, Bapak mengarahkan sesuai dengan bakat dan minat mereka masing-masing,” tuturnya ketika berbincang dengan WARTAWAN JOURNALPOLICE.ID ( JP ) di “Dian Pelangi Butik” Tempat usaha butik berada.

Sewaktu kecil, Dian sama seperti anak perempuan remaja pada umumnya, ia suka mengeksplorasi gaya fashion dan model rambutnya. Namun, setelah usai sekolah menengah pertama (SMP), Dian pun melanjutkan pendidikannya ke sekolah kejuruan atau SMK.dian tidak memilah pergaulan,sehingga cerdas dan tidak liar dalam pergaulan.

Oleh ayahandanya terdidik matang bagaimana mengenal sosialisasi,bermasyarakat,tata krama bergaul sampai norma norma kesopan santunan dalam karir kehidupan.

“Bapak memasukkan Dian ke SMK agar makin di ketahui bakatnya yang positif dan kreatif. Dian suka menggambar,berkarya,bermusik,” lanjutnya.

Lebih lanjut lagi keterangan yang diberikan wartawan, bahwa ada alasan lain mengapa Dian dimasukkan ke sekolah kejuruan, sebab ia ingin Dian mempelajari banyak hal, bukan hanya sebatas pendidikan formal saja, tapi juga bersosialisasi dengan lingkup yang lebih luas.

“Di sekolah kejuruan, Bapak ingin mengajarkan agar Dian tidak sombong, terutama saat menghadapi banyak karakter orang lain.karena biar mandiri dan salah bergaul. Karena, di sekolah jurusan terdapat siswa-siswa yang tidak hanya berasal dari kalangan borjuis,harus bisa menghargai dan sosial pada sesama yang membutuhkan.jangan pandang sebelah mata orang lain dengan memandang serta bedakan status sosial materi.

Jadi,  Dian harus memiliki kemampuan belajar dan terjun didalamnya, agar ia bisa makin mengenal karakter orang dari kalangan menengah dan atas,”tegas ia menceritakan.

Nah, dalam hal tersebut, juga akan membuat Dian menjadi sosok yang tidak minder, artinya Dian bisa menghadapi orang lain dari kalangan manapun.bermodalkan kejujuran,ketekunan dan ihtiar doa pada Tuhan…” DIAN ITU ANAK YANG JUJUR,PINTAR,CERDAS TIDAK PERNAH BERBOHONG PADA ORANG LAIN,APALAGI ORANG TUA…??”tutur ayahanda Dian.

Berkat pembelajaran yang dibekali oleh sang ayah, Dian akhirnya menjadi sosok wanita dan perancang busana muslimah yang mengharumkan nama bangsa hingga kancah internasional.kecantikan luar dalam yang bernilai tinggi serta kepiawaian yang bisa dijempoli.usaha butik pun lancar rejeki atas berkah ilahi.

“Melihat kesuksesan Dian tentu bangga sudah bisa go internasional. Bapak bangga sebagai orangtua melihat Dian sekarang ini, Alhamdulillah,” tandas Pak Djamal dengan ramah.

Sumber : Eka awi/tim jp

Email Autoresponder indonesia
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.