banner 468x60

Perwakilan PT.HWI, Sugito : Di Wilayah Trangkil Pati Tidak Akan Didirikan Pabrik Sepatu

banner 160x600
banner 468x60

Journalpolice.id | PATI – Puluhan masyarakat yang mengatasnamakan APPL (Aliansi Petani Peduli Lingkungan) Kecamatan Trangkil kembali datangi kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pati pertanyakan hasil audensi beberapa wakti lalu terkait akan didirikanya pabrik sepatu adidas diwilayah kecamatan Trangkil.

Salah satu perwakilan warga, Abdul Majid saat audensi diruang rapat paripurna DPRD Pati tidak seharusnya pabrik sepatu “Adidas” didirikan di wilayah kecamatan Trangkil, sebab di wilayah Pati selatan dianggap lebih layak karena lahanya kurang begitu produktif.

“Kenapa harus di wilayah kami, padahal untuk wilayah lainya kan ada yang lahanya kurang produktif, apakah ada permainan pendirian pabrik di wilayah kami ?.” Ujar Abdul Majid, Selasa (22/3/2022)

Sampai saat ini, para petani keluhkan rencana pendirian pabrik sepatu di wilayah Kecamatan Trangkil, sebab menurut informasi petani merasa resah dan takut adanya cukong cukong tanah yang berkeliaran keluar masuk desa yang notabenya adalah pemerintahan desa (Pemdes).

” Sebelum pabrik sepatu didirikan, seharusnya kan ada sosialisasi ke masyarakat, para petani. Sampai saat ini warga petani merasa takut dan resah adanya cukong cukong tanah yang berkeliaran keluar masuk desa.” Ungkapnya

Sementara perwakilan dari PT. HWI, Sugito membantah jika di wilayah kecamatan Trangkil tidak alan didirikan pabrik sepatu, akan tetapi PT. HWI akan melebarkan sayap dengan mendirikan pabrik apparel.

” Siapa bilang di Trangkil akan didirikan pabrik sepatu Adidas?, Jangan kaitan permasalahan ini dengan Adidas, nanti saya bisa kena penalti. Kalau menyebut HWI saja.” Bantah Sugito

Sugito juga menepis adanya informasi cukong cukong keluar masuk desa dan membuat takut dan resah para warga petani, sebab yang dianggap warga petani cukong adaalah dirinya sendiri.

” Kalau yang mau jual tanahnya ya silahkan, kalau tidak ya tidak apa apa. Kami juga sudah melakukan pendekatan dengan beberapa desa, Mojoagung, Ketanen untuk mengumpulkan para pemilik lahan. Kalau warga masyarakat menolak, daerah selain Pati juga banyak kok. Dan yang dianggap cukong keluar masuk desa itu adalah diri saya sendiri yang melakukan sosialisasi.” Paparnya

Sugito mengaku untuk wilayah desa Tegalharjo dan Pasucen karena haraga lahan permeternya terlalu tinggi.

( suf/jp )

Pencarian Terkait

Email Autoresponder indonesia
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.