banner 468x60

OKNUM OJK BOBOL DATA NASABAH DIJUAL KE OKNUM BANK DEMI KURAS UANG NASABAH

banner 160x600
banner 468x60


Ilustrasi pembobolan data nasabah

JP__JAKARTA – dilansir okezone.com Kepolisian Daerah Metro Jaya mengungkap kasus pembobolan rekening milik wartawan senior Ilham Bintang. Pembobolan tersebut, dengan modus membeli data nasabah bank dan juga membeli Sistem Laporan Informasi Keuangan (SLIK) OJK. Data itu nantinya digunakan untuk mencari target korban.

Menanggapi hal itu, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan, kejadian pembobolan melalui OJK itu menunjukkan, pengawas lembaga keuangan tersebut harus membenahi sistemnya. Artinya ada sistem yang tidak bisa dibangun oleh OJK sehingga membuat bisa diakses semua orang dan tidak ada verifikasi.

Berikut ini Okezone telah mengumpulkan fakta-fakta data nasabah OJK dibobol, Senin (10/2/2020)

1. Kelalaian Sistem Ini Membuat Banyak Orang Dirugikan

Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad menyatakan harus ada sanksi baik secara struktur maupun individu kepada orang-orang yang terlibat pada jual beli data nasabah.

“Ini kan ada hal kelalaian sistem yang sebabkan banyak orang dirugikan atau banyak orang manfaatkan ini dan menurut saya itu penting,” ungkap dia di Jakarta, Kamis (6/2/2020).

Tauhid menerangkan, perlu untuk membangun sistem baru dan mengganti sumber daya manusia yang ada. “Karena tentu saja ada kelemahan teknologi yang dimanfaatkan orang lain,” ujar Tauhid. 

2. Otak Dari Pembobolan Ini Adalah Warga Palembang

Polda Metro Jaya mengungkapkan, kasus ini melibatkan 8 orang para pelaku pembobolan, yakni Desar (27), Teti (46), Wasno (52), Arman (53), Jati (33), Hendri (24), Rifan (25), dan Heni (25). Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus mengungkapkan, otak pembobolan rekening ini dikomandoi oleh tersangka Desar, warga Palembang, Sumatera Selatan.

3. Sistem Kerja Para Pelaku

Usai Desar mendapat seluruh

data tersebut, dia meminta tersangka Wasno, Teti, dan Arman untuk membuat duplikat kartu simcard handphone milik korban di gerai Indosat di kawasan Jakarta Barat. Tujuan duplikat itu sendiri, agar para pelaku bisa mengubah pasword rekening milik korbannya dengan melakukan perubahan setelah mendapat simcard yang telah di duplikat milik korban.

Namun, dalam pembuatan simcard di gerai tersebut membutuhkan KTP. Oleh sebab itu, Desar meminta tersangka lain yakni Jati untuk memalsukan KTP dan berhasil dilakukan.

Secara teknis, nomor Handphone didapat dari Hendri, dan membuat simcard baru. Salah satunya nomor HP Ilham Bintang yang mati dan ini dijadikan kesempatan untuk membuat simcard baru.

Singkatnya setelah berhasil membuat simcard baru milik Ilham Bintang, pelaku kemudian mulai membobol email korban, kemudian mengganti password m-banking milik korban dan menguras habis uang.

Baca Juga: Datangi Kantor OJK, Nasabah Jiwasraya Pulang dengan Kecewa

4. Pelaku Membeli Data Nasabah

Desar awalnya membeli data nasabah bank dan juga membeli Sistem Laporan Informasi Keuangan (SLIK) OJK. Data ini dibeli dari tersangka lainnya, yakni Hendri yang memang memiliki akses untuk mendapatkan Slik OJK tersebut, lantaran bekerja sebagai pegawai di Bank Bintara Pratama Sejahtera (BPR).

“Tersangka H (Hendri) punya akses bisa dapat Slik OJK di situ ada data pribadi, nama lengkap, seseorang yang memiliki rekening dan limit rekeningnya,” ungkap Yusri.

Dalam mengumpulkan SLIK OJK, Hendri dibantu dua tersangka lainnya yaitu Heni (25) dan Rifan (25). Dirinya menjual data SLIK sejak Januari 2019-Desember 2019 seharga Rp100.000.

Hendri pun meraup keuntungan Rp400 juta-Rp500 juta dari hasil penjualan data tersebut.

Baca Juga: Kasus Jual Beli SLIK Bukti OJK Harus Direformasi

5. SLIK Berisi Data Pinjaman Debit

Juru Bicara OJK Sekar Putih Djarot angkat bicara terkait masalah ini. Dirinya menegaskan bahwa SLIK berisi data fasilitas pinjaman debitur dan bukan data simpanan nasabah.

“Sehubungan dengan pemberitaan yang beredar ,yang menyatakan bahwa terdapat oknum bank yang menyalahgunakan data SLIK.

Dengan ini OJK menegaskan bahwa SLIK merupakan sistem pelaporan dari LJK (Lembaga Jasa Keuangan) kepada OJK yang berisi data fasilitas pinjaman debitur dan bukan data simpanan nasabah,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (6/2/2020).****

Email Autoresponder indonesia
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "OKNUM OJK BOBOL DATA NASABAH DIJUAL KE OKNUM BANK DEMI KURAS UANG NASABAH"