banner 728x90
banner 468x60

Menyingkap Supersemar, Pertemuan Soekarno, HB IX dan KH. Idham Kholid

banner 160x600
banner 468x60

Editor : Eka Awi
Soekarno, Soeharto dan Supersemar
Soekarno, Soeharto dan Supersemar. 

JOURNALPOLICE.ID , Jateng – Suatu hari Bung Besar (Bung Karno) memanggil dua tokoh Sri Sultan Hamengkubuwono IX mewakili masyarakat Jawa dan KH Idham Chalid mewakili Islam.

Kepada kedua tamunya, Bung Karno menyampaikan gagasan menyelamatkan negara dari tekanan Neokolim dan rongrongan kelompok komunis melalui penyesatan, sebuah langkah untuk mengelabui musuh dengan cara membuka jejak yang membuat tersesat makanan mengikutinya.

Lalu, ditunjukan kepada tamunya sebuah draft surat perintah sebagai bentuk penyesatan tersebut. Setelah membaca dengan saksama, kontan Sri Sultan Hamengku Buwono IX pun mengatakan: “Apa nggak salah bung? Surat ini beresiko peralihan kuasa? ”

Bung Karno pun tersenyum dan bertepuk tangan dengan khas negarawan besar. Menurutnya, seorang pemimpin sejati tahu kapan dia harus meletakan kekuatan demi menyelamatkan negara, peran militer sangat dibutuhkan.

Ia pun mengatakan telah mempersiapkan seseorang untuk mengendalikan keadaan tanpa orang yang mengetahuinya. Lebih lanjut, Bung Karno menerangkan orang yang disiapkan itu ahli strategi, sehingga mampu melakukan taktik penyesatan seperti yang ia rencanakan.

“Siapa orang Bung itu?” Tanya KH Idham Chalid.
Bung Karno pun menjawab dengan tegas, “Pangkostrad Soeharto!”

Singkatnya, selesaikan konsep tersebut bersama dengan gagunya dan disempurnakan dengan memanggil nama penerimanya, Bung Karno lalu meminta KH Idham Chalid mengantarkannya langsung kepada Soeharto.

Setelah memahami baik-baik surat perintah presiden atau yang kelak dikenal dengan Supersemar, Soeharto pun kaget. “Jangan saya, karena masih ada Jenderal yang lebih senior seperti pak Nasution !.” Ucapan spontan Soeharto yang membuat KH Idham Chalid saat itu juga mengajak Soeharto bertemu Jenderal AH Nasution.

Menanggapi surat perintah itu, AH Nasution pun mengatakan pada Soeharto, “Mengingat suku Jawa, Bung Karno sudah tepat memilih saudara.”

Antara percaya dan tidak, pada surat itu Pak Harto pun lantas mengutus tiga orang Jendraluh Basuki Rahmat, Amir Mahmud dan M Yusuf untuk disayang pada Bung Karno tentang surat perintah tersebut. M Yusuf dilibatkan untuk masuk masuk Istana, terima beliau besan Mauli Saelan yang menjadi Komandan Cakrabirawa, unit pasukan khusus pengawal presiden pada waktu itu.

Akhirnya, Soeharto pun menerima surat perintah itu setelah tiga Jenderal utusannya menyatakan benar surat perintah tersebut yang berasal dari Bung Karno.

Pertanyannya adalah, tepatkah tindakan Bung Karno memberikan surat perintah itu kepada Soeharto? Menjawab pertanyaan ini tentu saja membutuhkan kajian historis dan geopolitik khusus dan dalam. Namun, untuk menunjukkan loyalitas Soeharto pada Bung Karno cukuplah saya ingatkan melalui implementasi filosofis politik ” mikul nduwur mendhem jero ” Soeharto dengan menterjemahkan pembangunan semesta pelaksana Bung Karno menjadi Repelita, Marhaenisme diwujudkan melalui Kelompencapir.

Pengingat Sekadar, Kelompencapir , Yang merupakan singkatan Dari Kelompok Pendengar, Pembaca, Dan Pemirsa, Adalah activities Pertemuan untuk review Petani dan Nelayan di Indonesia Yang dicetuskan PADA masa Pemerintahan Presiden Soeharto. Kegiatan ini mengikutkan petani-petani berprestasi dari berbagai daerah.

Mereka diadu kepintaran dan pengetahuannya seputar pertanian, antara lain soal cara bertanam yang baik dan pengetahuan tentang pupuk dengan model mirip cerdas. Program ini ikut andil kala indonesia mencapai swasembada pangan dan penghargaan dari FAO pada tahun 1984.

Kemudian, dan jangan lupa ide besar Bung Karno tentang lembaga musyawarah untuk membangun bangsa yang kemudian dirintis orang-orang kepercayaannya seperti Suhardiman (SOKSI), Sughandi (MKGR), Mas Isman (KOSGORO) Sekber Golkar di era Soeharto terusprise.

Soeharto tidak pernah menjadikan Golkar sebagai partai politik dan betul-betul mengoptimalkannya sebagai lembaga musyawarah seperti yang diinginkan Bung Karno pasca Dekrit Presiden.

Kemudian, untuk menjaga kehormatan Bung Karno, Soeharto memberikan status tahanan rumah. Tindakan ini dilakukan guna menggagalkan segala macam hal yang telah dilakukan banyak pihak pada Bung Karno melalui pengadilan Mahmilub setelah pidato Nawaksaranya ditolak MPRS.

Ia pun memberikan perintah pada dirut Pertamina Ibnu Sutowo untuk membantu ekonomi keluarga Bung Karno. Maka tak heran jika di era Soeharto pom bensin yang berada di jalur hijau jalan Sudirman Jakarta milik salah satu putri Bung Karno, tak ada seorang pun berani mempersoalkan.

Soeharto pula yang berada di belakang layar membuat Megawati tokoh politik nasional untuk menepati konsensus Orde Baru melalui rekayasa politiknya.

Konsensus Orde Baru ini melibatkan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan KH Idham Chalid. Salah satu syarat yang harus dipenuhi: Pasca Soeharto, kepemimpinan nasional pada keluarga Bung Karno untuk menjaga Pancasila, UUD 45 dan ajaran Bung Karno.

Sayangnya, konsensus itu dihancurkan oleh operasi intelejen asing yang berkedok gerakan reformasi. Dan Megawati yang kesempatannya menjadi presiden malah berpihak pada reformasi rakyat tuanya sendiri.

Putri Bung Karno ini lupa pesan Bung Karno seperti ada dalam buku Tujuh Bahan Pokok Indroktinasi jika kelak yang akan menghancurkan indonesia adalah kaum reformis.

Soeharto memang Sukarnois sejati yang konsisten menjalankan ajaran Bung Karno dalam praktek kenegaraan dengan segala kelebihan dan kekurangannya, tak seperti Sukarnois abal-abal yang hanya menjual nama besar Bung Karno untuk meraih kekuatan seperti yang kita saksikan sekarang.

Oleh karena itu, janganlah kita pertentangkan kedua orang besar itu agar bangsa ini tak bisa larut dalam kebodohan pengertian situ sejarah.

Dan seandainya Pitut Suharto dan Yoga Soegama masih hidup, menyimak cerita ini pasti sama-sama tegas, “Hanya orang bokek tak punya kepentingan politik seperti sampeyan syekh yang sanggup menyingkapnya tanpa henti.”

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : Tim JP

Email Autoresponder indonesia
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.


Top