banner 468x60

Laporkan, karena Kampus dan Pesantren Rawan Terjadi Pelecehan Seksual

banner 160x600
banner 468x60

Jp| rawan pelecehan seksual di kampus dan pesantren hati2 awasi anak anak anda gelagat nya.jika menghadapi ujian tesis dan skripsi dan hal hal yang bersifat konsultasi anak2 langsung kepada pembimbing atau tatap muka, dia akan sedih dan membisu, takut gak diacc atau di setujui dengan bersarat, diduga banyak terjadi dan gak berani lapor.

Dilansir media onlin yaitu Belum lekang dalam ingatan publik, sebuah cuitan viral datang dari seorang mahasiswi Universitas Riau (UNRI) berinisial L mengalami pelecehan seksual yang diduga pelakunya dosen pembimbingnya sendiri menjabat sebagai dekan berinisial SH.

Peristiwa tak terpuji ini terjadi peserta didik berada dalam kondisi tidak berdaya (powerless), atas relasi kuasa dosen yang menempatkan mahasiswa yang dibimbing berada di bawah. Saat itu penyintas melakukan bimbingan skripsi kepada pelaku, Rabu (27/10/2021) sekira pukul 12.30 WIB.

Kejadian ini menambah daftar kasus pelecehan seksual di lingkungan pendidikan, khususnya kampus belum jadi ruang aman bagi peserta didik di Indonesia.

BACA JUGA:
DPRA Soroti Maraknya Kasus Pelecehan Seksual Terjadi di Lingkungan Pesantren
Kasus serupa juga menimpa seorang mahasiswi berinisial H dari salah satu perguruan tinggi di Jawa Barat. Dia merasakan sulitnya menuntut keadilan kekerasan seksual yang menimpanya di kampus.

Bedanya pelaku kekerasan tersebut merupakan sesama mahasiswa di fakultas yang sama dengan penyintas, dan dikenal sebagai sosok yang berprestasi.

“Awalnya kami takut melaporkan ini karena khawatir pelaku akan dibela, tapi ternyata Kepala Prodi kami terbuka dan membela korban,” kata H dikutip dari bbc.com.

Namun, begitu isu ini diangkat ke tingkat fakultas dan universitas, mereka sempat berhadapan dengan pihak-pihak yang meragukan kesaksian korban.

“Bahkan laporan kami diprosesnya sampai berbulan-bulan,” tutur H.

Merujuk pada survei yang dilakukan Kemendikbud pada 2020, sebanyak 77 persen dosen di Indonesia mengatakan bahwa kekerasan seksual pernah terjadi di kampus. Namun, 63 persen di antaranya tidak melaporkan kejadian itu karena khawatir terhadap stigma negatif.

Selain itu, data Komisi Nasional Perempuan menunjukkan terdapat 27 persen aduan kekerasan seksual di lingkup perguruan tinggi, berdasarkan laporan yang dirilis pada Oktober 2020.

Berdasarkan laporan tersebut periode 2015-2020 (Agustus) menunjukkan lingkungan pendidikan sudah tidak menjadi tempat yang aman bagi anak didik. Laporan yang diterima Komisi Nasional Perempuan pada 2015 diadukan 3 kasus, 2016 diadukan 10 kasus, 2017 diadukan 3 kasus, 2018 diadukan 10 kasus, meningkat pada 2019 menjadi 15 kasus dan sampai Agustus 2020 telah diadukan 10 kasus.

A Flourish chart
Kasus yang diadukan tentunya merupakan puncak gunung es, karena umumnya kasus-kasus kekerasan di lingkungan pendidikan tidak dilaporkan. Namun, jumlah ini menunjukkan bahwa sistem penyelenggaraan pendidikan nasional harus serius mencegah dan menangani kekerasan terhadap perempuan sebagai bagian dari penghapusan diskriminasi terhadap perempuan.

Bila ditinjau berdasarkan jenjang pendidikan. Universitas dan pondok-pesantren lembaga yang paling banyak terjadi kekerasan seksual dan diskriminasi.

Tercatat kampus terjadi 14 kasus, menempati urutan paling tinggi terjadi kekerasan seksual dan diskriminasi. Disusul lembaga pendidikan pondok-pesantren sebanyak 10 kasus.

Dari 51 kasus yang diadukan sepanjang 2015-2020, universitas menempati urutan pertama yaitu 27 persen dan pesantren atau pendidikan berbasis Agama Islam menempati urutan kedua atau 19 persen, 15 persen terjadi di tingkat SMA/SMK, 7 persen terjadi di tingkat SMP, dan 3 persen masing-masing di TK, SD, SLB, dan Pendidikan Berbasis Kristen.

A Flourish chart
Adapun bentuk kekerasan yang dialami yang tertinggi yaitu kekerasan seksual yaitu 45 kasus, angka ini setara dengan 88 persen, yang terdiri dari perkosaan, pencabulan dan pelecehan seksual, disusul kekerasan psikis dan diskriminasi dalam bentuk dikeluarkan dari sekolah sebanyak 5 kasus setara dengan 10 persen. Anak perempuan mendapatkan diskriminasi padahal mereka adalah korban kekerasan seksual (korban perkosaan)***

Pencarian Terkait

Email Autoresponder indonesia
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.