banner 468x60

KUSUMO : DIDUGA OKNUM BANK BERMAIN PEMBOBOLAN KARTU KREDIT BANK DILAPORKAN DI POLDA JATENG

banner 160x600
banner 468x60


Kuasa hukum korban LHJ, Kusumo Putro (tengah) menunjukkan berkas laporan di Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng

JP__Solo — Korban pembobolan kartu kredit berinisial LHJ (58) warga Colomadu, Kabupaten Karanganyar melaporkan kasus yang menimpanya di Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jawa Tengah, Senin (10/2). Laporan tersebut telah diterima dengan nomor STPA/63/II/2020/ Reskrimsus.

“Tadi siang sudah kami laporkan ke Ditreskrimsus Polda Jateng. Sudah diterima,” terang LHJ melalui kuasa hukumnya, Kusumo Putra kepada wartawan.

Dengan adanya bukti laporan ini, kata Kusumo, dia akan meneruskan ke pihak bank. Langkah ini ditempuh, supaya kliennya tidak dituduh menggunakan uang senilai Rp134 juta dalam pembelanjaan di sejumlah aplikasi online.

“Klien kami ini korban. Dia sama sekali tidak menggunakan kartu kreditnya untuk berbelanja berbagai barang di sejumlah aplikasi online hingga ratusan juta tersebut,” tegas Kusumo.

Dengan adanya bukti laporan ini, lanjut Kusumo, dia menuntut kepada pihak bank supaya perbankan tidak memberikan tagihan pada kliennya baik secara internal maupun eksternal. Selain itu, ia juga meminta kepada pihak bank agar kliennya tidak terkena pemblokiran alias BI checking.

“Termasuk, jika terbukti klien kami sebagai korban (tidak menggunakan kartu kredit miliknya namun digunakan pihak lain) perbankan wajib membersihkan nama baiknya. Dan, terakhir kami mendorong pihak Kepolisian untuk mengusut kasus ini setuntas-tuntasnya. Karena, klien kami merasa dirugikan baik tenaga, pikiran hingga waktu,” tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, LHJ (58), warga Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar terkejut setelah dirinya menerima tagihan kartu kreditnya mencapai Rp 134 Juta pada Bulan Januari 2020. Padahal, selama enam bulan dirinya tidak menggunakan kartu kreditnya untuk transaksi pembelian barang.

Kasus ini bermula, saat LHJ menerima tagihan melalui pesan email mencapai Rp 134 Juta. LHJ sendiri memiliki empat kartu kredit. LHJ menduga ada orang yang telah membobol keempat kartu kredit miliknya untuk membeli barang-barang secara online.

Dia mengaku, telah mengklarifikasi kejadian itu kepada pihak perbankan yang menerbitkan kartu kredit. Menurutnya, pihak bank masih menyelidiki kejadian itu.

Terkait transaksi kartu kredit miliknya, LHJ mengatakan, terdapat dua transaksi yang mengakibatkan kerugian hingga Rp 134 Juta, yakni pada 16 Januari 2020 dan 19 Januari 2020. Pada tanggal 16 Januari 2020 itu ada 24 transaksi dengan jumlah kerugian Rp 120,2 Juta dan berlanjut tanggal 19 Januari 2020 dengan nilai kerugian Rp 13,9 Juta.***

Email Autoresponder indonesia
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.