banner 468x60

Kisah Relawan UN Swissindo Dari Pelosok kampung

1399 views
banner 160x600
banner 468x60

Journalpolice.id

Cerita Ini Dibagikan Oleh Ibu Maya, Deputi Jenderal Provinsi Sulawesi Tengah Dalam Pertemuan Mingguan Asia Linggacala.

Kunjungannya ke Sigi adalah kemenangan besar!
Rupanya UN Swissindo tidak disambut di daerah ini, relawan UN-Swissindo memiliki banyak masalah dengan sosialisasi M1 Voucher, dan pihak yang berwenang setempat juga menentangnya dan bahkan melibatkan Polisi.
Mereka mengklaim bahwa UN-Swissindo adalah Lembaga Abal-abal, orang-orang UN Swissindo berasal dari partai komunis dan teroris, jadi setiap upaya Petugas UN-Swissindo atau Team Relawan bersosialisasi tentang Program UN Swissindo sangat tidak dianjurkan.

Pekan lalu, Ibu Maya dan tiem memutuskan untuk bertemu dengan masyarakat setempat dan memberikan penjelasan mengenai UN Swissindo.

Kedatangannya yang terlambat (2 jam), karena perjalanan yang sulit , mendaki gunung, melalui jalan berangin dan berbukit disambut kelompok-kelompok yang tidak senang, termasuk kepala daerah, otoritas lokal dan polisi.
Dari jarak 2 km sebelum mereka sampai di tempat tujuan dia diperingatkan oleh timnya tentang keadaan yang telah memanas sudah terjadi antara pihak Pemerintah, Aparat dan Tokoh Agama dengan Petugas-petugas UN-Swissindo yang pada perdebatan sebelumnya tidak menemukan titik damai yang diharapkan.

Tapi ibu Maya tetap berupaya menenangkan Timnya sambil berbisik lirih tetap semangat sebab badai pasti berlalu.

Hal pertama yang dilakukan Ibu Maya saat dia tiba adalah dengan cara yang selalu dia lakukan …meminta Pada Bapak Yang Mulia M1 di dalam hatinya untuk membantunya melakukan pekerjaannya dengan sukses.

Ketika tiba saatnya untuk berbicara, tidak ada senyuman di ruangan pertemuan tapi dia terus berbicara dengan penuh percaya diri bahkan dia meminta seseorang untuk maju jika ada pertanyaan atau ucapan yang harus dia jawab dan membuatnya sangat jelas.
Dan jika ada yang mengklaim negatif terhadap UN Swissindo maka diminta untuk menuliskannya dalam sebuah Pernyataan dan pastikan untuk
menyebutkan Hukum dan artikel mana yang mendukung pernyataan mereka.

Mengetahui daerah tersebut 90% orang Kristiani, dia juga mengutip Amsal 17:22 dari kitab suci;
“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.”
Undangan yang lebih banyak Kristiani itu terkesiap mendengarnya bahkan menyambut kembali dengan ucapan Amiiiiin…
Merekapun mulai kelihatan melakukan reaksi yg baik dengan bertepuk tangan .

Di akhir pidatonya, Ibu Maya menyampaikan untuk tetap bersama menjaga keharmonisan, tetap Akur Rukun dan Damai demi tercapainya tujuan UN-Swissindo yang mulia ini.
Sambutan masyarakat yang riuh seolah telah memberi isyarat bahwa Para Petugas UNS yang ada diwilayah itu tidak akan kesulitan lagi menyatukan presepsi dan pemahaman tentang UN-Swissindo kepeda masyarakat setempat.
Dan olala….diantara keramaian tiba-tiba Seseorang yang mengaku adalah Tokoh Agama Kristen yang sepertinya adalah pendeta mendatangi ibu Maya dan bertanya apakah dia bisa memeluknya?
Ibu Maya sangat terkejut, tapi kemudian diberitahu bahwa saat ibu Maya sedang berbicara alias presentasi, dia seolah melihat ada secercah cahaya bersinar terpancar dan Pemimpin Jemaat itu melihat wajah Yesua.
Pemimpin Jemaat itu nampak sesenggukan, mungkin menangis. Ternyata dari tutur katanya saya jadi tahu penyebabnya.
Beliau sedih karena merasa dirinya telah berdosa. Selama ini dia telah menyuruh orang-orang dekat dengannya untuk tidak bergabung dalam kegiatan UN-Swissindo manapun, dia bahkan mengatakan kepada mereka yang telah mengisi Voucher M1 untuk mengembalikannya atau membakarnya bila perlu.Kekhawatiran akan kejahatan Teroris telah mengganggu akal sehat mereka untuk berhati-hati dengan segala bentuk penawaran yang datang kepada mereka.Tapi sekarang semuanya sudah menjadi jelas.

Tokoh Agama itu sangat senang karena merasakan sepertinya Ibu Maya telah membawa malaikat kepadanya untuk menunjukkan sebuah kebenaran kepada mereka.
Beberapa jemaat yang datang ikut pula menyambut ibu Maya dan meminta foto bersama.

Pihak Pemerintah dan Aparat setempat juga memberi tahu Ibu Maya bahwa jika saja Petugas UN-Swissindo yang ada di Wilayahnya menjelaskan sejak awal seperti yang dia lakukan, mereka tidak akan melawan UN Swissindo.Makanya diakhir pertemuan Camat Kulawi meminta ibu Maya agar bisa memberikan dokumen untuk dipelajari juga diharapkan agar Petugas UNS Kab.Sigi siap menghadap Bupati dan memberikan pemahaman yg jelas tentang UNS.
Untuk menyikapi hal ini ibu Maya meminta kepada Deputy Jenderal Kabupaten Sigi agar sesegera mungkin membawakan dokumen lengkap tentang UN-Swissindo kepada semua Jajaran Birokrasi Pemerintah dan Aparat mulai dari Kabupaten, Kecamatan,Kelurahan dan Desa yg ada di Kab Sigi agar menjadi bahan dasar dan pegangan bagi Pemerintah dan Aparat jika ada masyarakat, atasan ataupun bawahan yang ingin tahu tentang Lembaga UN-Swissindo ini.

Akhirnya Camat,Sekcam,Kades,dan para undangan memutuskan dan menyatakan sikap akan turut bersama memajukan UNS ke depan, mendukung jika ada perencanaan Petugas UN-Swissindo di Wilayahnya untuk membuat sebuah acara menyambut UN Swissindo bahkan mereka meminta untuk sesegera mungkin direalisasikan untuk masa depan !!!

Kisah Ibu Maya ini adalah bagian dari upayanya untuk kemajuan besar Provinsi Sulawesi Tengah. Sebuah kisah indah yang patut dibagikan dengan Anda semua.

Bravo dan terima kasih Ibu Maya! Kamu adalah juara sejati!!!

WE LOVE YOU.


Seputar kisah mistis mukjizatpun terjadi pada maya seorang relawan sebagai Deputi Jenderal Provinsi Sulawesi Tengah Dalam Pertemuan Mingguan Asia Linggacala.

Kunjungannya ke Sigi adalah kemenangan besar!
Rupanya UN Swissindo tidak disambut di daerah ini, relawan UN-Swissindo memiliki banyak masalah dengan sosialisasi M1 Voucher, dan pihak yang berwenang setempat juga menentangnya dan bahkan melibatkan Polisi.
Mereka mengklaim bahwa UN-Swissindo adalah Lembaga Abal-abal, orang-orang UN Swissindo berasal dari partai komunis dan teroris, jadi setiap upaya Petugas UN-Swissindo atau Team Relawan bersosialisasi tentang Program UN Swissindo sangat tidak dianjurkan.

Pekan lalu, Ibu Maya dan tiem memutuskan untuk bertemu dengan masyarakat setempat dan memberikan penjelasan mengenai UN Swissindo.
Kedatangannya yang terlambat (2 jam), karena perjalanan yang sulit , mendaki gunung, melalui jalan berangin dan berbukit disambut kelompok-kelompok yang tidak senang, termasuk kepala daerah, otoritas lokal dan polisi.
Dari jarak 2 km sebelum mereka sampai di tempat tujuan dia diperingatkan oleh timnya tentang keadaan yang telah memanas sudah terjadi antara pihak Pemerintah, Aparat dan Tokoh Agama dengan Petugas-petugas UN-Swissindo yang pada perdebatan sebelumnya tidak menemukan titik damai yang diharapkan.
Tapi ibu Maya tetap berupaya menenangkan Timnya sambil berbisik lirih tetap semangat sebab badai pasti berlalu.

Hal pertama yang dilakukan Ibu Maya saat dia tiba adalah dengan cara yang selalu dia lakukan …meminta Pada Bapak Yang Mulia M1 di dalam hatinya untuk membantunya melakukan pekerjaannya dengan sukses.

Ketika tiba saatnya untuk berbicara, tidak ada senyuman di ruangan pertemuan tapi dia terus berbicara dengan penuh percaya diri bahkan dia meminta seseorang untuk maju jika ada pertanyaan atau ucapan yang harus dia jawab dan membuatnya sangat jelas.
Dan jika ada yang mengklaim negatif terhadap UN Swissindo maka diminta untuk menuliskannya dalam sebuah Pernyataan dan pastikan untuk
menyebutkan Hukum dan artikel mana yang mendukung pernyataan mereka.

Mengetahui daerah tersebut 90% orang Kristiani, dia juga mengutip Amsal 17:22 dari kitab suci;
“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.”
Undangan yang lebih banyak Kristiani itu terkesiap mendengarnya bahkan menyambut kembali dengan ucapan Amiiiiin…
Merekapun mulai kelihatan melakukan reaksi yg baik dengan bertepuk tangan .

Di akhir pidatonya, Ibu Maya menyampaikan untuk tetap bersama menjaga keharmonisan, tetap Akur Rukun dan Damai demi tercapainya tujuan UN-Swissindo yang mulia ini.
Sambutan masyarakat yang riuh seolah telah memberi isyarat bahwa Para Petugas UNS yang ada diwilayah itu tidak akan kesulitan lagi menyatukan presepsi dan pemahaman tentang UN-Swissindo kepeda masyarakat setempat.
Dan olala….diantara keramaian tiba-tiba Seseorang yang mengaku adalah Tokoh Agama Kristen yang sepertinya adalah pendeta mendatangi ibu Maya dan bertanya apakah dia bisa memeluknya?
Ibu Maya sangat terkejut, tapi kemudian diberitahu bahwa saat ibu Maya sedang berbicara alias presentasi, dia seolah melihat ada secercah cahaya bersinar terpancar dan Pemimpin Jemaat itu melihat wajah Yesua.
Pemimpin Jemaat itu nampak sesenggukan, mungkin menangis. Ternyata dari tutur katanya saya jadi tahu penyebabnya.
Beliau sedih karena merasa dirinya telah berdosa. Selama ini dia telah menyuruh orang-orang dekat dengannya untuk tidak bergabung dalam kegiatan UN-Swissindo manapun, dia bahkan mengatakan kepada mereka yang telah mengisi Voucher M1 untuk mengembalikannya atau membakarnya bila perlu. Kekhawatiran akan kejahatan Teroris telah mengganggu akal sehat mereka untuk berhati-hati dengan segala bentuk penawaran yang datang kepada mereka.Tapi sekarang semuanya sudah menjadi jelas.

Tokoh Agama itu sangat senang karena merasakan sepertinya Ibu Maya telah membawa malaikat kepadanya untuk menunjukkan sebuah kebenaran kepada mereka.
Beberapa jemaat yang datang ikut pula menyambut ibu Maya dan meminta foto bersama.

Pihak Pemerintah dan Aparat setempat juga memberi tahu Ibu Maya bahwa jika saja Petugas UN-Swissindo yang ada di Wilayahnya menjelaskan sejak awal seperti yang dia lakukan, mereka tidak akan melawan UN Swissindo.

Makanya diakhir pertemuan Camat Kulawi meminta ibu Maya agar bisa memberikan dokumen untuk dipelajari juga diharapkan agar Petugas UNS Kab.Sigi siap menghadap Bupati dan memberikan pemahaman yg jelas tentang UNS.

Untuk menyikapi hal ini ibu Maya meminta kepada Deputy Jenderal Kabupaten Sigi agar sesegera mungkin membawakan dokumen lengkap tentang UN-Swissindo kepada semua Jajaran Birokrasi Pemerintah dan Aparat mulai dari Kabupaten, Kecamatan,Kelurahan dan Desa yg ada di Kab Sigi agar menjadi bahan dasar dan pegangan bagi Pemerintah dan Aparat jika ada masyarakat, atasan ataupun bawahan yang ingin tahu tentang Lembaga UN-Swissindo ini.

Akhirnya Camat,Sekcam,Kades,dan para undangan memutuskan dan menyatakan sikap akan turut bersama memajukan UNS ke depan, mendukung jika ada perencanaan Petugas UN-Swissindo di Wilayahnya untuk membuat sebuah acara menyambut UN Swissindo bahkan mereka meminta untuk sesegera mungkin direalisasikan untuk masa depan !!!

Kisah Ibu Maya ini adalah bagian dari upayanya untuk kemajuan besar Provinsi Sulawesi Tengah. Sebuah kisah indah yang patut dibagikan dengan Anda semua.

Bravo dan terima kasih Ibu Maya! Kamu adalah juara sejati!!!

Sepengal kisah relawan yang getol memperjuangkan program UN-Swissindo.

Sumber : team jp

Editor : team jp

Email Autoresponder indonesia
author
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.