banner 468x60

Keluarga Korban Pembunuhan Di Nalumsari, Tuntut Hukuman Maksimal Bagi Tersangka

banner 160x600
banner 468x60


Journal police. Id jepara Siti Aminah istri korban Fatkul Rondi, warga Dukuh Krajan, Rt. 01 / Rw. 06, Desa Muryolobo kecamatan Nalumsari sepeninggal suaminya saat ini, menjadi tulang punggung keluarganya, dengan bekerja menjadi buruh pabrik sepatu di Kecamatan Mayong.

Kasus meninggalnya korban pembunuhan di Pasar Gandu, Desa Bendanpete, Kecamatan Nalumsari, pada Minggu 15/5/2022 sekitar pukul 17.00 WIB dengan korban warga asal Desa Muryolobo, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara, bernama Fatkul Rondi bin Suwadi (30 Tahun) oleh 2 (dua) orang tersangka berinisial IS (31) dan MS (20) warga Desa Ngetuk yang saat ini di tahan di Polres Jepara.

Korban almarhum Fatkul Rondi bin Suwadi adalah kepala keluarga yang mempunyai istri bernama Siti Aminah binti Suyoto (29 Tahun) dengan 1 putra berinisial NAR (1.5 Tahun).

Kepada awak media, Senin 27 Juni 2022 Siti Aminah ( istri korban ) mengatakan bahwa dia merasa kehilangan atas kepergian suaminya akibat dibunuh.

Namun dia mengeluhkan dan kecewa, adanya informasi berita di media online bahwa, para tersangka hanya akan dikenakan pasal hukuman pengeroyokan bukan pasal hukuman pembunuhan.

Dengan nada sedih, istri korban yang didampingi oleh anak dan ibunya berujar, “Saya hanya menuntut keadilan untuk para pembunuh suami saya. Agar mereka dihukum seberat-beratnya,” ujarnya.

Sementara Sulasmi ibu mertua korban menyampaikan agar para pelaku pembunuh menantunya dihukum maksimal.

Sementara Sunarto Petinggi Desa Muryolobo, saat diminta konfirmasi langsung mengatakan, adanya tuntutan hampir 100 warga Desa Muryolobo, dalam bentuk surat pernyataan tentang solidaritas warga Desa Muryolobo, yang menuntut pelaku pembunuhan dihukum seberat-beratnya kepada saya selaku petinggi atau Kades.

“Saya hanya mengakomodir keinginan dan aspirasi warga Desa untuk melanjutkan tuntutan mereka, agar pelaku pembunuhan dikenakan hukuman seberat-beratnya oleh pihak berwajib,” ucap Sunarto.

Pada kesempatan yang sama, salah seorang warga Desa Muryolobo bernama Askur membenarkan bahwa tersangka jangan hanya dikenakan Pasal 170 ayat (2) ke-3 KUHP dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara, namun mohon dengan pasal lain yang memberatkan yaitu Pasal 338 atau Pasal 340 (perencanaan pembunuhan).

“Karena saya pernah sampaikan ketika audiensi di Balai Desa Muryolobo dihadapan Kapolres Jepara, bahwa kasus terbunuhnya korban, Fix tidak ada kaitannya dengan kejadian sehabis menonton orkes di Kudus,” jelasnya.

“Karena saat peristiwa terjadi korban bersama 2 (dua) temannya, sehabis dari Kudus, sempat pulang kerumah masing-masing dan pada saat peristiwa itu terjadi, mereka bertiga keluar rumah untuk mencari makan, Akhirnya, peristiwa tragis pembunuhan itu terjadi, Saat itu 2 orang yang selamat lari ke arah berbeda namun sempat di tembak senapan angin oleh para pelaku dan juga dibacok,” terang Askur.

“Sedangkan korban pada saat kejadian, lari ke arah berbeda, lalu dikejar oleh para pelaku dan akhirnya terbunuh dengan luka sayatan di leher dan mengakibatkan meninggal dunia,” pungkasnya.

Perlu dicermati yang terkena senjata tajam terkena dileher berarti udah ada niatan membunuh tapi kalau terkena tangan atau kaki dikatakan korban pengroyokan gak pa2. (bgs_jmk)

Pencarian Terkait

Email Autoresponder indonesia
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.