banner 468x60

Jokowi Muak Sama KPK Soal SP3 Korupsi BLBI, Bikin Tim Sendiri yang Lebih Sadis

banner 160x600
banner 468x60

Joko Widodo mulai panas, lama kelamaan Joko Widodo sudah gerah dengan apa yang dikerjakan oleh KPK. KPK saat ini memang secara struktur, dipimpin oleh Irjen Firli. Tapi secara bawah sadar, KPK ini dikuasai oleh polisi Taliban yang ada Novel saudaranya Anies Baswedan.

Banyak sekali kasus-kasus yang didiamkan dan dihentikan oleh KPK. Profesionalitas KPK sudah ada di ujung tanduk, kalau tidak mau dikata, sudah luntur dan hancur lebur berantakan seperti serpihan kaca akuarium. Kinerja KPK ini sampah. Sudah dikuatkan pan sama Revisi UU KPK, masih cacat.

Mau sebagus apapun UU yang dibuat Jokowi untuk menguatkan KPK, nggak ada gunanya juga selama masih ada Novel Baswedan, polisi Taliban versi Bung Neta S Pane. Novel ini tersangka penembakan pencuri sarang burung walet yang sempat ditahan oleh kepolisian.

Orang ini merasa penting dan merasa dirinya bisa menguasai KPK dan mengatur mesin korupsi yang dikerjakan di DKI Jakarta. Kita melihat bagaimana KPK ini sangat buruk dan cacat kinerjanya. Sudah gak bisa kerja, masih cari perhatian lewat pengarahan ke mahasiswa saat demo. Ketahuan.

Setelah Antasari Azhar ditangkap, KPK banyak disisipkan orang-orang titipan penguasa pada saat itu. Makanya nggak heran, jika kasus BLBI per hari ini dihentikan. Korupsi candi Hambalang juga didiamkan. Lalu korupsi-korupsi lain yang dikerjakan kader partai berkarat, didiamkan.

Setelah Anies jadi gubernur DKI Jakarta, KPK ini seperti tentara yang siap menjaga Anies dan memberikan izin untuk melakukan apa saja soal anggaran. Sudah banyak anggaran janggal yang dicurigai dikorupsi. Sekarang sudah jelas di depan mata, 70 hektar tanah dikorupsi oleh Direktur Sarana Jaya.

Dikorupsi atas seizin Anies Baswedan, ditandatangani oleh dirinya. Sekali lagi, KPK diam, seolah merestuinya. Kemudian KPK pun juga kelihatan sangat berpihak kepada partai berkarat. Kasus BLBI yang melibatkan orang-orang partai berkarat pun dihentikan. Di-SP 3 kan. Bukankah ini menjijikkan?

Kasus BLBI adalah kasus korupsi dengan nilai yang sangat besar. Untuk kita ketahui bersama, khususnya bagi yang belum paham kasus BLBI, kasus ini adalah kasus korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia. Bantuan Likuiditas Bank Indonesia alias BLBI adalah skema peminjaman uang.

Peminjaman uang bertujuan baik, yakni untuk memberikan bantuan uang untuk mereka yang mengalami kesulitan mencairkan uang karena krisis 1998. Kasus ini cukup ruwet seperti perkara Bank Century yang juga polemiknya terjadi di era partai berkarat berkuasa.

Memahami BLBI ini agak panjang, karena harus mulai di tahun 1997 atau 1998, tahun-tahun kelam Indonesia di bawah kepemimpinan Soeharto yang di eranya bangun TMII yang dikelola oleh keluarganya.

BLBI ini adalah bantuan keuangan untuk bank-bank yang hampir bangkrut, dan nyaris tidak memiliki uang likuid alias yang bisa langsung dicairkan pada saat nasabah ingin menariknya. Likuiditas uang di bank saat krisis moneter sangat miris, kenapa demikian?

Jawabannya cukup sederhana. Karena banyak orang yang menarik uang mereka dari bank untuk usaha mereka. Tapi BLBI ini memiliki kejanggalan, dan rumitnya BLBI ini akhirnya harus membuat KPK menyerah. Padahal utang-utang yang ada, harus dilunasi. Kok malah dihentikan?

Kalau bicara tentang menghentikan kasus, ada dua kemungkinan. Pertama, tidak ada bukti cukup untuk melanjutkan kasus BLBI ini. Kedua, KPK terlalu cupu untuk memahami BLBI, karena matanya terbatas. Saya yakin KPK hentikan kasus BLBI karena kemungkinan kedua. Dan ditambah kemungkinan ketiga.

Apa itu kemungkinan ketiga? Kemungkinan ketiga, ya karena ada komando untuk menghentikannya. Inilah yang penulis rasa, menjadi penyebab Joko Widodo membuat instruksi untuk pembentukan satgas penagihan utang BLBI. Kasarnya, Jokowi muak sama kinerja Novel dan kawan-kawan.

Tangkapannya yang kecil-kecil diviralkan. Yang gede-gede ditutup. Kesannya kok KPK ini pemburu rente saja? Kenap***(Ponco)

Pencarian Terkait

Email Autoresponder indonesia
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.