banner 468x60

Debt to Equity Ratio: Pengertian, Rumus, dan Perhitungannya 

banner 160x600
banner 468x60


Sebuah perusahaan dikatakan sehat bukan hanya dari nilai penjualan atau kualitas SDM-nya.

Namun bisa diukur dari perspektif keuangan internal. Salah satunya dengan pengukuran rasio utang terhadap modal atau dengan istilah yang lebih dikenal sebagai debt to equity ratio.

Debt to Equity Ratio (rasio utang terhadap modal) atau yang bisa disingkat DER adalah rasio hutang terhadap ekuitas. Bisa juga disebut dengan rasio hutang modal. Pengertian dari Debt to Equity Ratio (DER) adalah sebuah rasio keuangan yang membandingkan jumlah hutang dengan ekuitas. Ekuitas dan jumlah hutang yang digunakan untuk operasional perusahaan harus berada dalam jumlah yang proporsional.

Debt to Equity Ratio juga sering dikenal sebagai rasio leverage atau rasio pengungkit.

Yang dimaksud dengan rasio pengungkit yaitu rasio yang digunakan untuk melakukan pengukuran dari suatu investasi yang terdapat di perusahaan.

Debt to equity ratio adalah rasio keuangan yang utama dalam suatu perusahaan. Hal ini dikarenakan Debt to Equity Ratio digunakan untuk mengukur posisi keuangan suatu perusahaan.

Table of Contents
1 Cara Menghitung Debt to Equity Ratio
2 Rasio Utang Terhadap Modal sebagai Penilai
3 Debt to Equity Ratio dan Pajak Penghasilan
4 Kesimpulan

Cara Menghitung Debt to Equity Ratio

Cara menghitung Debt to Equity Ratio diperlukan rumus tersendiri. Rumusnya adalah:

Debt to Equity Ratio (DER) = Total Hutang : Ekuitas

Dengan catatan:

Hutang atau yang disebut dengan liabilitas adalah kewajiban yang harus dibayar perusahaan secara tunai kepada pihak pemberi hutang dalam jangka waktu tertentu. Dilihat dari jangka waktu pelunasannya, hutang dibagi menjadi kewajiban lancar, kewajiban jangka panjang, dan kewajiban lain-lain.
Ekuitas atau equity adalah hak milik perusahaan atas aset atau aktiva perusahaan yang merupakan kekayaan bersih. Ekuitas terdiri atas setoran pemilik perusahaan dan sisa laba ditahan.

Kewajiban lancar atau utang lancar merupakan kewajiban yang sifatnya jangka pendek, dan masih cenderung dianggap hal biasa. Biasanya utang lancar adalah utang perusahaan yang menyangkut tentang operasional perusahaan yang bersifat jangka pendek.

Misalnya; utang terhadap supplier, kewajiban membayar gaji, atau utang pembelian dalam rangka memenuhi kebutuhan produksi.

Kewajiban jangka panjang merupakan jenis utang yang berbahaya untuk perusahaan dan lebih baik dihindari oleh perusahaan. Utang jangka panjang biasanya nominalnya lebih besar, dan memiliki bunga. Misalnya pinjaman bank atau pihak lain.

ketika kewajiban lancar lebih besar daripada kewajiban panjang hal tersebut masih dapat dipahami, karena wajar. Namun jika sebaliknya, inilah yang bisa menjadi perusahaan tidak sehat. Jika kewajiban jangka panjang lebih besar dari kewajiban lancar, perusahaan akan terancam mengalami gangguan likuiditas.

Rasio Utang Terhadap Modal sebagai Penilai

Karena rasio utang terhadap modal merupakan angka yang penting dalam perhitungan laporan keuangan perusahaan, maka perhitungannya juga harus dilakukan dengan cermat dan teliti. Sehat atau tidaknya kondisi keuangan sebuah perusahaan dilihat dari rasio utang terhadap modal (DER).

Jika rasio suatu perusahaan meningkat,maka artinya perusahaan tersebut mendapat pendanaan dari pemberi hutang. Jadi bukan dari pendapatan perusahaan tersendiri. Hal ini cukup berbahaya dan harus diawasi karena perusahaan harus membayar hutang tersebut dalam jangka waktu tertentu. Para pemberi hutang atau investor biasanya akan lebih cenderung memilih perusahaan yang rasio utang terhadap modalnya kecil. Hal ini berarti aset pemberi hutang atau investor tetap aman jika terjadi kerugian.

Semakin tinggi rasio utang terhadap modal, maka semakin tinggi pula jumlah hutang atau kewajiban perusahaan untuk melunasi hutang yang harus dibayar baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.***

Pencarian Terkait

Email Autoresponder indonesia
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.