banner 468x60

BUDAYAWAN KERATON KARTOSURO LAKU BATIN BADHAR GIYANTI

banner 160x600
banner 468x60


Kartosuro Selasa Kliwon 28 Juli 2020_

JP | Sukoharjo -H.Muh.Rokhim selaku pembina Lidik Krimsus Republik Indonesia sebagai tamu kehormatan dari Keraton Kartosuro untuk turut serta mendoakan ritual Badhar Giyanti, H.Moh.Rokhim yang juga selaku Senopati Agung Gunung Lawu menjelaskan ke awak media, Perjanjian Giyanti merupakan sebuah peristiwa besar di masa silam. Sejarah ini dihadirkan kembali sebagai ‘perekat’ ingatan masyarakat dengan peristiwa tersebut. Perjanjian ini lahir sebagai sebuah kesepakatan segitiga politik antara Pakubuwana III, Pangeran Mangkubumi dan Perserikatan Dagang Hindia Belanda (VOC)

Berdasarkan perjanjian ini, wilayah Mataram dibagi menjadi 2. Wilayah di sebelah timur Sungai Opak (yang melintasi daerah Prambanan sekarang) dikuasai oleh pewaris takhta Mataram, yaitu Sunan Pakubuwana III, dan tetap berkedudukan di Surakarta. Wilayah di sebelah barat (daerah Mataram yang asli) diserahkan kepada Pangeran Mangkubumi yang sekaligus diangkat menjadi Sultan Hamengkubuwana I yang menetap di Yogyakarta. Di dalamnya juga terdapat klausul bahwa pihak VOC dapat menentukan siapa yang menguasai kedua wilayah itu jika diperlukan. tapi semua itu kita sudahi Sejarah kelam Leluhur kita diadu domba Belanda dan mari kita lestarikan dengan harapan ritual khusuk laku batin ini sebagai penghormatan kita kepada para Leluhur dan bisa kembali menyatukan guyub rukun kembali kejayaan Mataram Gemah Ripah Loh Jinawi tegasnya. turut hadir bp.Hapsoro anggota DPRD Klaten .

Dilangsir serat kawulo- Agung Bakar / Iwan Purwoko Olah Batin, Fantasy, Realitas Baru dan Peradaban Baru

Olah batin dan fantasi yang menghasilkan realitas baru penanda terbangunnya mercusuar peradaban baru itulah proses narasi tentang hidup yang berkebudayaan.

Sebuah proses mengembalikan makna “Mataram nyawidji” dalam artian Nyawidji Rasa lan Nyawidji Tresna sedang kami jalani.

Dalam pengembaraan batin kami menjangkau dan menembus jalinan lembaran lembaran kelambu masa lalu, kami menyaksikan setelah terjadinya Perjanjian Giyanti tahun 1755, rasa kebersamaan Mataram secara spiritual kebatinan retak dan terbelah…

Jogja dan Solo tidak lagi nyawidji. Tidak lagi menjadi kesatuan. Perjanjian Giyanti telah mengoyak kesatuan spiritual kebatinan Jogja dan Solo. Terkoyaknya kesatuan spiritual kebatinan ini bukan tidak terlacak secara wadag. Sungguh terlacak secara wadag, meski muncul secara sporadis dalam kontur yang tidak terstruktur.

Situasi ini sangat mengusik hati kami selaku anak negeri yang makan dan minum dari tanah pertiwi. Kebatinan kami sedih dan merintih. Jiwa kami gundah dan marah. Kami terpanggil untuk berbakti dengan mencanangkan BADHAR GIYANTI!

Dengan tekad tulus dan laku ikhlas kami ingin mengembalikan MAKNA NYAWIDJI sebagai penerus Bhumi Mataram dan Bhumi Nusantara.

Mohon doa, dukungan kebatinan panjenengan untuk menguatkan perjalanan simbolik kami guna menyatukan Mataram Jogja dan Solo secara spiritual.

Kami akan melakukan perjalanan kaki berangkat dari dua arah. Kami, Agung Bakar akan berangkat dari Kraton Kartasura di Surakarta dan Iwan Purwoko akan berangkat dari Makam Raja Jawa di Kota Gede Yogjakarta sebagai titik awal perjalanan. Kami berdua nantinya akan bertemu di Tugu Titik 0 Klaten sebagai penanda mengakhiri dan berakhirnya jiwa yang gelisah dan terpisah, menjadi satu, NYAWIDJI, bersatu lagi untuk keutuhan dan kemajuan negeri.

Mohon doa sekali lagi sehingga ‘sejo’ dan ihtiar kami berjalan dengan lancar “Rahayu ing sedayanipun”. Dengan harapan dan kerendahan hati, jadikanlah peristiwa yang kami rangkai menjadi rujukan baru, mercusuar baru bagi Rakyat Mataram yang satu, yang padu, yang maju dan terus maju, menyongsong harapan dan peradaban baru, masyarakat adil makmur gemah ripah loh jinawi.
Kanthi sesanti :
_nyebar wijining kerukunan_
_nandur witting katresnan_
_nyiram banyu katentreman_
_ngrabuk suburing kautaman_
(wnd)

Email Autoresponder indonesia
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "BUDAYAWAN KERATON KARTOSURO LAKU BATIN BADHAR GIYANTI"