banner 468x60

Dunia Pendidikan Tercoreng Lagi Di Pekalongan Diduga Terindikasi Korupsi

banner 160x600
banner 468x60


Journalpolice.id, Pekalongan Jateng – Banjir proyek siluman khususnya di tingkat Sekolah Dasar Negeri/SDN 01 dan 02 Blacanan Kecamatan Siwalan Kabupaten Pekalongan Provinsi Jawa Tengah, banyaknya proyek siluman karena keberadaan papan proyek seperti diabaikan.

Padahal Papan Proyek sebagai informasi tentang sumber dana, berapa besar dananya, jenis proyeknya, berapa gedung yang dapat bantuan, dilaksanakan oleh siapa , jangka waktunya berapa bulan tercantum di papan tersebut. Itu semua harus terpampang jelas dan diletakkan di tempat yang strategis sehingga mudah di lihat serta dapat dibaca oleh masyarakat. “Kalau papan proyek tidak ada, jelas pelanggaran administrasi persyaratan pelaksanaan proyek yang di biayai oleh negara. Sangat disayangkan masih banyak proyek baik pembangungan ruang kelas baru maupun rehab yang tidak berpapan nama,” tandasnya.

Ditambahkan bahkan hal ini bisa dikatakan melanggar aturan tentang keterbukaan informasi publik. “Papan nama proyek harusnya sesuai aturan di pasang saat proyek belum di kerjakan atau posisi nol persen, bukan saat proyek sudah berjalan baru di pasang dengan alasan kesibukan dan lain sebagainya, ini baru soal papan proyek yang kami soroti. Kami juga menduga banyak proyek yang di sengaja memilih material yang harga dan kualitasnya tidak sesuai, salah satunya yang banyak kami temui yakni mereka menggunakan batu bata pres asal Purwodadi yang harganya lebih murah yakni sekitar Rp 600 kalau ambil dari lokasinya langsung, sedangkan kalau sudah di depot Rp 800an persatunya.

Sedangkan batu bata lokal mencapai Rp 1000 harga satuannya. Harusnya jika memang ada produk batu bata lokal kenapa harus memilih batu bata dari luar daerah, mengaku akan terus melakukan pengawasan sampai proyek DAK tersebut selesai dan sudah menempatkan timnya di Kabupaten Pekalongan.

Sementara itu beberapa kepala sekolah yang dikonfimasi tentang hal ini mengaku belum memasang papan karena kesibukan, “Memang kami belum memasang papan nama karena disibukan dengan urusan kegiatan belajar mengajar (KBM) dan persiapan untuk memperingati HUT RI tentang repotnya mendapatkan bantuan DAK karena sebagai tenaga pendidik pihak sekolah tidak mengerti tentang tehnik bangunan”. Papar narasumber sebagai tokoh Masyarakat yang tau persis tentang di dunia Pendidikan dan tentang peraturan Pembangunan.

Seperti yang di temui Journalistpolice pada tanggal 30-07-2019 kepada Subhan, SPd Selaku Sekolah SDN 02 Blacanan. saat dikonfirmasi tentang papan nama proyek. “sebenaranya papan proyek sudah jadi tapi memang baru kami pasang sekitar dua hari yang lalu karena keterbatasan kami sebagai manusia lupa memasang,” ujarnya.

Ditanya tentang apakah itu menyalahi aturan atau tidak dengan enteng Subhan menjawab, “ah itu kan masalah tehnis saja tidak perlu di masalahkan, manusiawi kita lupa kalau aturannya harus di pasang saat proyek nol persen saya tidak tahu tapi kan yang jelas sudah kami pasang,” elaknya.

Subhan mengaku proyek disekolahnya sudah sesuai dengan RAB dan spek yang berlaku, “kalau saya jelas mengacu pada RAB tidak mungkin menyalahi aturan, kalaupun ada kelebihan atau sisa uang itukan nantinya dikembalikan kepada kas negara jadi tidak mungkin saya mengurangi spek,” tandasnya.

Masih menurut Subhan tentang batu bata yang dipakai sudah sesuai RAB “dalam RAB tidak sebutkan harus pakai batu bata jenis apa yang jelas batu bata dan saya kan beli didepot termasuk besi di Kabupaten Pekalongan saya tidak tahu batu bata tersebut berasal dari mana. Sama seperti kayu yang penting pakai kayu Kanpas sudah itu saja tidak ada yang menyebutkan harus kualitas A, B atau C,” Ujar Subhan.

Di tempat terpisah tapi masih satu area di sebelah baratnya yakni SDN 01 Blacanan hal yang sama dengan SDN 02 Blacanan.

Sampai tiga kali dalam waktu seminggu Kepala Sekolah/KS nya enggan menemui kepada Journalistpolice.com
Sumber:Journalistpolice.com

Email Autoresponder indonesia
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Dunia Pendidikan Tercoreng Lagi Di Pekalongan Diduga Terindikasi Korupsi"