banner 468x60

Jangan terpaku satu bidang ilmu saja

192 views
banner 160x600
banner 468x60

25 Agustus 2017 dibaca normal 2:30 menit

Ilustrasi teknologi. Getty Images / iStockphoto
INTI BERITA
Ada lontaran menarik soal pendidikan dari pemodal ventura dan penulis buku The Fuzzy and the Techie,Scott Hartley. Ia memandang di masa depan, “pemilahan palsu” antara studi humaniora dan ilmu komputer membutuhkan dirombak. Seperti ditulis  Harvard Business Review , Hartley percaya saja yang hanya terpaku pada bidang teknologi dan ilmu pasti tidak cukup untuk menyelesaikan masalah-masalah berskala besar.Alih-alih mendorong para mahasiswa untuk mengerucutkan fokus pada suatu bidang atau minat, ia suka agar institusi pendidikan dan pelajar berbagi ruang pengetahuan dan minatnya.Ia juga mencontohkan beberapa CEO yang berlatar belakang humaniora seperti Jack Ma (Alibaba) dan pendidikan bahasa Inggris, Susan Wojcicki (Youtube) yang mengambil studi sejarah dan sastra, serta Brian Chesky (Airbnb) yang meraih gelar Bachelor of Fine Arts 

Menurut Hartley, lulusan-lulusan ilmu budaya pun bisa berkontribusi dalam aspek-aspek pragmatis yang jadi sorotan bidang teknologi. Melalui pendekatan budaya, orang dapat mengetahui hal-hal apa saja yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat dalam konteks tertentu.

Pendapat senada disampaikan oleh Gary Saul Morson dan Morton Schapiro, dua profesor bidang humaniora dan ekonomi dari Northwestern University. Mereka menilai ilmu ekonomi yang diajarkan kepada para mahasiswa kerap kali lipat tiga hal: efek budaya terhadap pembuatan keputusan, kegunaan cerita dalam menjelaskan tindakan-tindakan masyarakat, serta perkara etika.

Salah satu cara memahami masyarakat dan budayanya menurut Morson dan Schapiro adalah melalui kajian sastra atau novel. Bagaimana novel bisa mendorong pemahaman tentang masyarakat? Bagi kedua profesor ini, cerita yang dituturkan dalam novel bisa membangkitkan perasaan empati.

Pembaca akan dibawa untuk mendalami cerita kehidupan para tokoh serta diajak untuk melihat dunia dengan kacamata pihak lain yang tidak berasal dari belakang belakang sama. Inilah kemampuan penting yang bisa dibuat para ekonom atau sarjana-sarjana non-pengetahuan budaya lainnya merangkul orang-orang yang menjadi sasaran kajian atau pasar mereka.

Di Indonesia sendiri, pemahaman akan kebutuhan krusial masyarakat bisa mendorong bisnis meraih untung besar. Ambil contoh layanan transportasi berbasis aplikasi daring. Bukan rahasia bila masalah transportasi umum menjadi salah satu hal yang paling dikeluhkan warga kota-kota besar.

Begitu pula dengan mereka yang suka mobilisasinya ke layanan transportasi online. Efisiensi waktu dan tenaga tak pelak berimbas kepada produktivitas warga kota, dan pada akhirnya bisa berefek pula terhadap ekonomi dan aspek-aspek kehidupan lainnya.

Pendekatan Interdisipliner Bukan Tanpa Kendala

Dalam dunia akademis, pendekatan kolaboratif yang melibatkan dua atau lebih perspektif atau bidang ilmu dikenal dengan pendekatan interdisipliner. Karena suka mengkaji suatu fenomena dari aneka perspektif, pendekatan interdisipliner mampu menelurkan solusi-solusi yang lebih kreatif.

Penyampaian masyarakat yang disasar serta pakar-pakar yang dirangkul untuk berkolaborasi pun semakin luas. Tidak hanya itu, pendekatan interdisipliner juga memungkinkan para pelajar atau pakar untuk keluar bias bias yang dihasilkan oleh studi berperspektif tunggal.

Selaku paparan Hartley dan Morson dan Schapiro, kolaborasi pihak-pihak yang berperspektif beragam masyarakat. Hal ini lantas tumbuhnya toleransi terhadap kelompok-kelompok masyarakat yang dikaji; Suatu hal yang penting dipegang di tengah konteks masyarakat heterogen.

Menurut penelitian  Casey Jones (2009) dari College of DuPage, AS, pendekatan interdisipliner berbeda dari pendekatan multidisipliner atau krosdisipliner. Pendekatan multidisipliner mempraktikkan pengajaran lebih dari satu bidang secara paralel, sementara pendekatan krosdisipliner menjalin beberapa ilmu.

Pendekatan interdisipliner lebih dari kedua pendekatan lainnya, membuat sintesis dari perspektif-perspektif ilmu. Alih-alih kebebasan mencomot satu dua teori dari disiplin ilmu lain, seorang pelajar mesti memahami pula paradigma-paradigma yang menaungi perspektif atau disiplin ilmu yang ingin dikolaborasikannya dengan ilmu yang tengah ia tekuni.

ini memang belum jamak diterapkan di berbagai institusi pendidikan. Masih ada anggapan sebagian ahli ilmu. Pengkajian ilmu oleh orang-orang yang bukan ahlinya tidak pantas dilakukan, demikian kesepakatan Setya Yuwana Sudikan dalam tulisan bertajuk“Pendekatan Interdisipliner, Multidisipliner, dan Transdisipliner dalam Studi Sastra” .

Menurut Jones, meski pendekatan interdisipliner mampu mendongkrak kemampuan berkomunikasi lantaran bertambahnya pemahaman bidang-bidang tertentu, ia juga terbebas dari masalah, seperti peliknya mempersiapkan pengajaran untuk anak didik serta untuk pengembangan bidang studi.

Pada lembaga pendidikan, pengajar berasal dari belakang pendidikan untuk memudahkan transfer ilmu. Saat mendekatkan interdisipliner kepada anak didik, pihak sekolah atau universitas mesti mampu memfasilitasi, baik materi ajar maupun pengajarnya. Jika kedua hal itu tak bisa terpenuhi, si anak didik mesti secara aktif cacing sendiri perspektif ilmu yang ingin ia kaji. Tentu, hal itu bukan tantangan yang sepele.

Meski ada keraguan terhadap kecakapan akademis orang-orang yang menerapkan pendekatan interdisipliner, juga kendala teknis di ruang kelas, bukan hal ini memblokade perkembangan ini. Kembali ke peran teknologi, pendekatan interdisipliner kini kian mudah terkena dengan terbukanya berbagai saluran untuk mengakses ilmu pengetahuan.

Informasi-informasi di ranah online-yang sebagian juga dioptimalkan untuk akses informasi di ranah offline-potensial menambah khazanah pengetahuan seseorang. Kendati demikian, informasi yang diserap patut disaring dan dicek berulang, bandingkan, dan terus dicari tesis dan antitesisnya agar tidak perlu mandek.

 

 

Editor : Awi JP

Redaksi www.journalpolice.id

Sumber petresia/kompas.com

Email Autoresponder indonesia
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.