banner 468x60

66 Anak Di Kota Ini Kejang-kejang Dan Jadi Zombie, Ternyata Mereka Dikasih Obat PCC Gratis

banner 160x600
banner 468x60

Editor – Eka awi

JOURNALPOLICE.ID – Baru-baru ini netizen dihebohkan dengan video penampakan anak-anak yang menjadi kejang-kejang bahkan ada yang berubah jadi zombie.

Video tersebut menjadi viral di sosial media. pengunggah rekaman video tersebut menggunakan akun Facebook bernama Andi Muslimin.

Terlihat dalam video tersebut, seorang anak layaknya orang yang hilang kontrol, seorang anak kejang-kejang dan bertingkah aneh seperti layaknya zombie.

 

“Foto salah satu korban”

“Tadi malam tiba-tiba dibopong teman-temannya, kata mereka anak ini habis minum obat-obatan yang dicampur minuman energi. Saat saya bawa ke Polsek Mandonga kata intel juga ada 32 anak yang masuk rumah sakit dengan gejala sama, malah sudah ada yang meninggal” terang Andi.

Namun setelah ditelusuri pihak kepolisian dan BPOM, kelakuan mereka menjadi aneh karena telah mngkonsumsi Obat PCC.

Obat PCC yang belum diketahui darimana asalnya itu menyebabkan 66 anak menjadi korban di Kendari, Sulawesi Tenggara. Akibat efek penyalahgunaan obat ini, korban bisa mengalami gangguan kepribadian hingga disorientasi.

PCC merupakan obat keras yang tidak boleh dijual sembarangan atau harus seizin dokter. Namun obat ini dipasarkan dengan harga murah kepada siswa di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Pada waktu yang sama (kemarin/jumat) seorang siswa SD dengan inisial R tewas akibat overdosis PCC, Somadril, dan Tramadol. Sehari kemudian, Riski (20) tewas tenggelam akibat berhalusinasi setelah mengonsumsi PCC. Dia lari ke laut kemudian tewas tenggelam.

Ayah Riski, Rauf menuturkan anaknya diketahui mengkonsumsi obat mumbul bersama adiknya, Reza. Beruntung, adiknya masih bisa diselamatkan dan dilarikan ke Rumah Sakit Jiwa Kendari.

“Anak saya meminum obat mumbul yang dicampur dengan pil PCC, awalnya melompat ke got depan rumah. Adiknya berhasil diselamatkan, namun kakaknya bernama Riski berlari ke arah laut dan menceburkan dirinya,” terang Rauf.

Korban kakak-adik ini merasa kepanasan, efek dari obat yang dikonsumsinya. Sang kakak berlari ke arah laut dan menceburkan diri. Sayangnya, ia tenggelam dan ditemukan sudah tidak bernyawa.

Kepala BPOM Sulawesi Tenggara (Sultra) Adilah Pababbari menegaskan obat terlarang yang beredar selama beberapa hari terakhir dan cukup meresahkan masyarakat di Kota Kendari merupakan tablet PCC. Dijelaskan Adilah, tablet PCC memiliki kandungan parasetamol, kafein, dan carisoprodol. PCC merupakan obat ilegal yang tidak memiliki izin edar dan dijual perorangan tanpa adanya kemasan.

 

“Salah satu kandungan dari PCC sendiri yakni carisoprodol, yang tergolong dalam obat keras berdasarkan surat keputusan Menteri Kesehatan No 6171/A/SK/73 tanggal 27 Juni 1973 tentang Tambahan Obat Keras Nomor Satu dan Nomor Dua,” jelas Adilah di Kantor BPOM Sultra, Kendari, jumat(15/9/2017).

Dari keterangan Menteri Kesehatan Nila Moeloek, obat PCC dapat menyebabkan beberapa masalah kesehatan.
“Pasien yang dirawat berusia antara 15-22 tahun mengalami gangguan kepribadian dan gangguan disorientasi, sebagian datang dalam kondisi delirium setelah menggunakan obat berbentuk tablet berwarna putih bertulisan PCC dengan kandungan obat belum diketahui,” ujar Menkes dalam siaran persnya.

Menkes berharap agar Badan Narkotika Nasional (BNN) segera mengidentifikasi kandungan obat tersebut. Ia juga berharap agar BNN menetapkan status zat yang terkandung dalam kelompok adiktif.

Hingga berita ini diluncurkan, Kombes Martinus Sitompul mengungkapkan setidaknya ada 66 anak yang menjadi korban obat PCC ini.

“Data jumlah korban sekarang sudah 66 orang,” ujar Kabagpenum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul melalui pesan singkat, Jumat (15/9).

Menurut Martinus, beberapa korban sudah ada yang pulang ke rumah masing-masing. Baik yang kondisinya sudah membaik maupun karena alasan lainnya.

Saat ini, dia menerangkan, korban yang masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit berjumlah 15 orang. Sebanyak 12 di antaranya.

 

 

 

 

Sumber ( kp/tim JP)

Email Autoresponder indonesia
author
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.