banner 468x60

31 Oktober 1925 : Kongres Bank Internasional Cetuskan Hari Menabung Sedunia

banner 160x600
banner 468x60

JOURNALPOLICE. ID – Di Jerman, menabung pun dijadikan sebagai hari besar, yaitu setiap tanggal 31 Oktober. Itu semua berawal dari Pencetusan Kongres Bank Internasional yang berada di Milan Italia dan berlaku sejak tanggal 31 Oktober 1925 bagi seluruh warga Eropa. Hari tersebut juga merupakan hari bersejarah, karena diperingati diseluruh dunia. Di hari tersebut baik anak – anak maupun orang dewasa diberi kesempatan 1 minggu sebelumnya untuk mengumpulkan uang lalu ditabungkan atau yang disebut dengan istilah Weltsparwoche. Namun faktanya, tanggal tersebut tidak familiar ditelinga kita jika diperingatisebagai hari menabung sedunia, akan tetapi malah gencar diperingati sebagai Halloween.

Kinderspartag dan Weltsparwoche merupakan sebuah tradisi turun temurun yang ada di Negara Jerman. Anak kecil menjadi terangsang ketika ada tradisi seperti ini, karena mereka berbondong – bondong mengumpulkan uang untuk di tabung di bank. Mereka tidak sendiri, tetapi juga ditemani oleh orang tua bahkan kakek neneknya. Di bank anak – anak bisa menyerahkan celengan berbentuk babi berwarna merah muda yang berisi uang recehan. Lalu uang tersebut di hitung oleh mesin yang kerjanya sangat cepat. Setiap kelipatan 5 Euro akan diberikan stiker berwarna orange lalu bisa dibuat untuk menukarkan hadiah. Hadiahnya pun bisa dipilih sendiri, mulai dari boneka berbentuk hewan, mainan mobil –mobilan, bahkan buku – buku. Selain itu anak – anak bisa mengambil permen ataupun balon. Jadi kegiatan tersebut sangatlah merangsang otak anak dan menanamkan suatu tindakan positif di alam bawah sadar mereka, bahwa menabung sangatlah penting dan sangat bermanfaat untuk masa depan mereka.

Jika di Jerman, anak – anak kecil sudah di rangsang untuk berlomba – lomba menabung, lain halnya dengan Indonesia. Jika saja hal tersebut bisa diterapkan di Indonesia, pasti akan meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia itu sendiri. Kelemahannya di Indonesia tidak diperbolehkan menabung di bank dengan uang receh, padahal anak kecil yang pulang dari sekolah, yang mendapat kembalian uang jajan ketika mereka jajan di warung – warung kebanyakan uang recehan yang bisa digunakan untuk menabung. Okelah kalau mereka mempunyai tabungan sendiri di rumah yang telah di ajarkan orang tua mereka. Tetapi tidak menutup kemungkinan jika cara yang di gunakan orang Jerman untuk mendidik anak – anak mereka bisa diterapkan secara langsung di Indonesia. Hal ini bisa dimulai dari diri sendiri lalu di ajarkan kepada sanak saudara, tetangga, dan masyarakat luas. Melalui rangsangan seperti hadiah dan sebagainya, akan meningkatkan keinginan dan kemauan anak untuk menabung lebih banyak lagi.

 

Editor = Eka awi

Sumber =kmpsn

Kontributor = tim jp

Email Autoresponder indonesia
Satu Respon
  1. author

    Dalijo kurang piknik2 tahun ago

    Nabung dicelengan beda dg di bank. Dicelengan masukin 1000 tetap 1000. Dibank ada bunga, besarnya lebih dr 2,5%. Mnrt ajaran agama saya, yg mungkin juga dianut oleh pegawai & pimpinan bank, jika lebih dari 2,5% per tahun adalah RIBA. Selama ini saya & bermilyar nasabah lain terpaksa makan duit riba ???. Nabung di yang katanya menggunakan sistem syariah ?? Sama saja !!!